Dimana Hitam atau Putih?

karena dunia ini sudah menjadi abu-abu

Hak Cipta

wallecopyrightcriminal500b
Negara Indonesia tempat saya tinggal merupakan negara dengan pelanggaran hak cipta yang cukup besar, hal ini tidak lepas dengan kondisi prekonomian kita yang masih minim.
Atau jangan-jangan pembaca sendiri merupakan salah seorang pelanggar hak cipta??? hayoo ngaku??
saya sendiri secara jujur adalah seorang pelanggar hak cipta, malah saya mungkin pelanggar sejati+_+’ windows saya bajakan, buku text book saya foto kopian(gada yg asli kalo text book mah), musik2 saya semuanya mp3 yang didapet gratis di internet, filem2 saya dvd bajakan(gak semua) malah biasanya donlot.

anda marah terhadap saya yang mendukung pembajak??? boleh, asal anda jangan melakukan hal2 diatas yang saya lakukan, silahkan membeli windows asli, text book asli (bole minjem ke perpus tapi di perpus saya bukunya foto kopian ternyata), jangan donlot mp3, jangan beli dvd bajakan, dan jangan donlot filem2 gratisan.

sekarang apa itu hak cipta?? ayo kita tanya mbak Wiki
Hak cipta (lambang internasional: ©) adalah hak eksklusif Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengatur penggunaan hasil penuangan gagasan atau informasi tertentu. Pada dasarnya, hak cipta merupakan “hak untuk menyalin suatu ciptaan”. Hak cipta dapat juga memungkinkan pemegang hak tersebut untuk membatasi penggandaan tidak sah atas suatu ciptaan. Pada umumnya pula, hak cipta memiliki masa berlaku tertentu yang terbatas.

Hak cipta berlaku pada berbagai jenis karya seni atau karya cipta atau “ciptaan”. Ciptaan tersebut dapat mencakup puisi, drama, serta karya tulis lainnya, film, karya-karya koreografis (tari, balet, dan sebagainya), komposisi musik, rekaman suara, lukisan, gambar, patung, foto, perangkat lunak komputer, siaran radio dan televisi, dan (dalam yurisdiksi tertentu) desain industri.

Hak cipta merupakan salah satu jenis hak kekayaan intelektual, namun hak cipta berbeda secara mencolok dari hak kekayaan intelektual lainnya (seperti paten, yang memberikan hak monopoli atas penggunaan invensi), karena hak cipta bukan merupakan hak monopoli untuk melakukan sesuatu, melainkan hak untuk mencegah orang lain yang melakukannya.

Hukum yang mengatur hak cipta biasanya hanya mencakup ciptaan yang berupa perwujudan suatu gagasan tertentu dan tidak mencakup gagasan umum, konsep, fakta, gaya, atau teknik yang mungkin terwujud atau terwakili di dalam ciptaan tersebut. Sebagai contoh, hak cipta yang berkaitan dengan tokoh kartun Miki Tikus melarang pihak yang tidak berhak menyebarkan salinan kartun tersebut atau menciptakan karya yang meniru tokoh tikus tertentu ciptaan Walt Disney tersebut, namun tidak melarang penciptaan atau karya seni lain mengenai tokoh tikus secara umum.

Di Indonesia, masalah hak cipta diatur dalam Undang-undang Hak Cipta, yaitu, yang berlaku saat ini, Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002. Dalam undang-undang tersebut, pengertian hak cipta adalah “hak eksklusif bagi [p]encipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak [c]iptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku” (pasal 1 butir 1).

Ciptaan yang dapat dilindungi
Ciptaan yang dilindungi hak cipta di Indonesia dapat mencakup misalnya buku, program komputer, pamflet, perwajahan (lay out) karya tulis yang diterbitkan, ceramah, kuliah, pidato, alat peraga yang dibuat untuk kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan, lagu atau musik dengan atau tanpa teks, drama, drama musikal, tari, koreografi, pewayangan, pantomim, seni rupa dalam segala bentuk (seperti seni lukis, gambar, seni ukir, seni kaligrafi, seni pahat, seni patung, kolase, dan seni terapan), arsitektur, peta, seni batik (dan karya tradisional lainnya seperti seni songket dan seni ikat), fotografi, sinematografi, dan tidak termasuk desain industri (yang dilindungi sebagai kekayaan intelektual tersendiri). Ciptaan hasil pengalihwujudan seperti terjemahan, tafsir, saduran, bunga rampai (misalnya buku yang berisi kumpulan karya tulis, himpunan lagu yang direkam dalam satu media, serta komposisi berbagai karya tari pilihan), dan database dilindungi sebagai ciptaan tersendiri tanpa mengurangi hak cipta atas ciptaan asli (UU 19/2002 pasal 12).

Kritik atas konsep hak cipta
Kritikan-kritikan terhadap hak cipta secara umum dapat dibedakan menjadi dua sisi, yaitu sisi yang berpendapat bahwa konsep hak cipta tidak pernah menguntungkan masyarakat serta selalu memperkaya beberapa pihak dengan mengorbankan kreativitas, dan sisi yang berpendapat bahwa konsep hak cipta sekarang harus diperbaiki agar sesuai dengan kondisi sekarang, yaitu adanya masyarakat informasi baru.

Keberhasilan proyek perangkat lunak bebas seperti Linux, Mozilla Firefox, dan Server HTTP Apache telah menunjukkan bahwa ciptaan bermutu dapat dibuat tanpa adanya sistem sewa bersifat monopoli berlandaskan hak cipta [3]. Produk-produk tersebut menggunakan hak cipta untuk memperkuat persyaratan lisensinya, yang dirancang untuk memastikan kebebasan ciptaan dan tidak menerapkan hak eksklusif yang bermotif uang; lisensi semacam itu disebut copyleft atau lisensi perangkat lunak bebas.
sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Copyright

Nah, dengan keadaan sekarang, dimana pembajakan dimana-mana dan cukup banyak pihak yang dirugikan, sebenernya siapa sih yang salah??? apakah pembajakan harus dihentikan atau ternyata copyrights itu sendiri yang aneh???

sebagai contoh, bila saya membeli sebuah cd lagu asli, maka cd tersebut mau saya bakar atau saya buang sah-sah saja kan? tapi kenapa tidak boleh saya burn? sementara alat buat nge’burn beredar dimana-mana. Ketika saya membeli buku dan dipinjam oleh teman saya kemudian dia fotoCopy, padahal bila ngeFotoCopy akan melanggar hak cipta, tapi mesin fotoCopy beredar di setiap sudut jalan.
akankah bisa pembajakan dihentikan bila alat pembajak(bukan pembajak sawah) beredar dimana-mana?
ketika suatu software diberi perlindungan agar tidak bisa dibajak, tetapi tetap bisa kebobolan dan dibajak. Hal tersebut karena “diatas langit masih ada langit” secara umum pasti selalu ada “cracker” yang lebih pintar yang membantu atau membuat usil(mirip robin hut).

Kenapa buku sekolahan yang wajib dibeli harganya lebih mahal dibandingkan dengan di fotoCopy? bukankah itu akan membuat murid yang kurang mampu mem’fotoCopy? ataukah buku-buku tersebut hanya diperuntukan buat orang kaya?
Apakah saya harus menggunakan software AutoCad ASLI buat kuliah saya? sementara teman teman saya yang lain tidak bisa belajar karena tidak mempunyai software ASLI? apakah Hak Cipta itu diciptakan untuk melindungi orang-orang kaya dari orang-orang yang kurang mampu?
bila sesuatu yang mengandung ilmu pengetahuan di hak cipta kan, maka negara berkembang akan terus bodoh karena tidak punya uang, dan negara maju akan terus menjadi pintar.

menurut saya khusus yang mengandung ilmu pengetahuan, seperti buku,software,dll akan menjadi lebih adil bila sang penemu diberi jasa(uang atau apapun) atas penemuannya dan hasil penemuannya disebar luaskan oleh pemerintah secara bebas kepada masyarakat sehingga suatu bangsa bisa menjadi bansa yang maju.

Terlapas siapa yang salah (hak cipta VS pembajak) namun beginilah kondisi sekarang, saya menggunakan produk yang tidak legal hanya untuk pribadi, namun bila anda bermaksud menggunakan suatu produk untuk kepentingan komerisal, silahkan beli yang ASLI!

September 25, 2009 Posted by | abu abu | Leave a comment

From Zero To HERO!

super_hero_n0wq
Tulisan ini saya dapat saat iseng iseng sewaktu ingin tahu gaji kalau kerja di perusahaan minyak di http://nofieiman.com/2007/02/gaji-di-perusahaan-minyak-dan-gas/ saya membaca banyak komentar menarik, tetapi satu komentar ini yang paling menarik serta dapat menambah semangat kalau kita harus NEVER GIVE UP! setiap saat! dan selalu ingat kalau kegagalan itu adalah suatu keberhasilan yang tertunda…
berikut comments’nya semoga bermanfaat bagi teman teman :

# Anonymous
August 10th, 2009 at 10:28 pm

sekedar sharing tentang cerita menarik bgmn meniti karir di perusahaan migas. sangat inspiratif.
————————-

From: kahar_zulkarnain
Subject: Re: [Oil&Gas] BAGAIMANA CARA UNTUK FRESH GRADUATED DI PERUSAHAAN MINYAK ? ADA JALUR BIROKRASI YANG MUDAH UNTUK SAYA?
To: Migas_Indonesia@ yahoogroups. com
Date: Friday, June 19, 2009, 8:37 AM

Dear all Saudara Indonesia ku.

Terima kasih atas tanggapanya baik yang masuk lewat jalur pribadi maupun yang lewat jalur umum..

Dibawah ini saya tulis bagaimana saya mencari takdir saya.. mohon maaf karena saya bukan penulis bahasa saya mungkin tidak enak dicerna. Bahasa adalah salah satu kelemahan saya, Jangankan bahasa Inggris bahasa Indonesia saya saja amburadur, tapi ini tidak akan menjadi batu halangan untuk mencoba maju terus. dengan banyaknya kekurangan saya serta penyakit Psorisis yang saya derita membuat sekujur tubuh terkelupas saya terus melangkah kalau salah diperbaiki kalau benar dipertajam.. .

LOMPATAN KATA MENUJU MATAHARI

“Man must be equipped with the capacity to listen to and obey the ten thousand demands in the ten thousand situations with which life is confronting him.” (1975, p. 120), Viktor Frankl’s theory.

Dalam perjalan hidup ini kita sering menedengar, “Pasti ada hikmah di balik setiap kejadian” Ungkapan ini selalu kita dengar…

Dipinggiran danau yang tercipta dari kaldera runtuhan yang terbentuk dari letusan besar jauh sebelum terjadinya super vulcano Toba yang menjadi ukuran besarnya letusan gunung berapi didunia ini. Maninjau, 15 September 1958. Aku lahir di iringi dendang siraman mitraliur oleh Tentara Nasional Indonesia dari puncak Embun Pagi. Cincin yang melekat di jari pamanku lepas untuk membayar jasa bu bidan yang membantu kelahiranku. Keponakan pertama dan cucu pertama dirumah keluarga besar suku melayu dipasar Maninjau disambut gembira seisi rumah.

Setelah melepas cincinnya sang paman kembali lari kehutan karena desa palembayan dan Matur sudah diduduki Tentara pusat dan Maninjau hanya menunggu waktu saja. Itulah sekeping cerita nenekku pada saat saat kelahiranku. Suasana kacau akibat pemberontakan PRRI yang gagal ini tanpa kusadari menjadikan aku seorang single fighter dalam perang yang lain yang berjudul “kehidupan”. PRRI boleh kalah karana salah memilih perang but I don’t.

Setelah Perang saudara reda pada usia dua tahun aku dibawa merantau oleh Ibuku ke Meral Tanjung balai Karimun – Riau adalah tujuan kami. Ibu mulai berkarya sebagai guru Sekolah Taman Kanak kanak dengan modal Ijazah SGTK nya dan kemudian bertransformasi sebagai karyawan Bea dan Cukai. Pada saat aku ada kerjaan di Kuala Lumpur sepanjang bulan May 2009, aku sempatkan lari di long weekend ke Meral, Untuk kembali melihat rumah pertama yang kami tempati dulu. Sekolah Dasarku yang masih berdiri gagah konon kini muridnya hampir seribu orang, untuk ukuran kecamatan itu patut di acungin jempol. Bertemu satu dua orang teman lama semasa anak, kami bermain gasing,mengejar layang layang putus dan mencari kepiting di lobang lobang berlumpur.

Sekolah dasar perguruan Tjahaya milik masyarakat Tionghoa di Meral Tanjung Balai Karimun adalah tempat aku mulai belajar membaca dan berhitung dan berlanjut di Sekolah Dasar Negeri III disebuah kota tambang bouksit Kijang di pulau Bintan. SMP pun selesai disini lanjut SMA Negeri Tanjung Pinang dan menempuh garis finish di Bagan Siapi api Riau.

Aku Anak Indonesia
16 Agustus 1968 adalah hari sibuk pertama dalam hidupku, kala anak anak SD Tjahaya akan ikut tap tu berjalan bawa obor dimalam hari menuju Taman Makam Pahlawan di kota kecamatan Tg, Balai Karimun. Rombongan kami menaiki Bas (sebutan untuk bis bagi orang orang meral) yang dikemudikan oleh apek apek (cina separuh baya). Ditengah kegembiraan anak anak SD, lagu halo halo bandung, maju tak gentar, dari Sabang sampai Marauke berkumandang sepanjang jalan utama di Tanjung Balai Karimun, membakar jiwa jiwa kecil kami. sepatu yang digosok berkilat baju yang harus pakai kanji biar rapi dan saat bulgur yang jadi makanan sehari hari kami pun sudah seperti nasi. Kami anak Indonesia akan berjuang untuk berdiri tegak. Suasana tegang akibat konfrontasi dengan Malaysia sudah takterasa lagi.

Lubang lubang persembunyian disekolah yang dibuat untuk berlindung kala serine bergaung telah ditutup, rumah rumah yang dicat loreng masih kelihatan. Perang sesama alat negara, yang terjadi didepan rumah kami yang menyisakan banyak selonsong peluru sudah mulai hilang dari ingatan kami.

Halo halo bandung…terus berkumandang… , teriakan merdeka yang keluar dari suara suara kecil itu disambut meriah oleh para penonton disepanjang jalan yang kami lalui…menjadi Indonesia adalah sebuah kebanggaan tersendiri itulah cita cita kami. Bagiku sehari sebelum parayaan 17 Agustus adalah hari dimana aku melihat jauh kedalam diriku, seolah menagih janji si anak SD. Apakah aku lebih baik dari tahun lalu. Tentu sudah tidak lagi makan bulgur baju pun tak perlu kanji lagi. Inilah pertannyaan tahunan yang selalu hadir dalam diriku.

Halo Indonesia hari ini aku tidak lagi bernyanyi halo halo bandung. Aku sedang menyanyikan lagu asin keringatku, merah darahku dan putih tulangku seperti lagu Gombloh. Aku telah berdiri sama tinggi dengan mereka Indonesia. Terima kasih Sukarno dan Hatta, Suharto, Habibie, Gusdur, Mega dan Susilo berkat tuan dan nyonya sampai hari ini aku masih bisa menyebut diri Warga Negara Indonesia masih tetap bangga menenteng Passport hijau berlambang burung garuda.

Masa kanak kanakku kuhabiskan di Meral dibesarkan dalam pangkuan dan asuhan nenekku karena ayah dan ibuku bekerja. Nenek adalah orang yang paling berkesan di dalam hidupku. Ketegasan, kasih sayangnya, cerita cerita rutinnya menemani hari hari ku mengenal dunia tak ada hari tanpa dongeng mengantar tidurku. Nenek ku namanya Nuraini orang dikampung memanggilnya uncu Ani ada pula yang memanggilnya uwaik anduang. Ayah nenek adalah seorang mentri candu di Medan sampai saat ini aku pun tidak tahu apa tugas mentri candu zaman belanda itu. Lorong lorong di simpang limun, gang aman , sukaramai jalan bakti nenek hafal luar kepala karena medan dan sekitarnya adalah rantau beliau .

Kalau ada kesempatan pulang kampung nenek selalu membawaku ketempat sanak saudara dan mengenalkan ku pada mereka dan biasanya akan berakhir dengan kunjungan ke tanah perkuburan keluarga kami. Disini nenek akan bercerita banyak, layaknya dosen sejarah, ini pusara nenek betawi, ini pusara nenek Aceh. Ini pusara abo Medan dan yang itu rantaunya ka sidempuan, setiap pusara nenek hafal betul. Masing-masing orang dikenal dengan kemana dia merantau. Ternyata nenek moyangku adalah keluarga perantau sejak dari sononya, ada yang pulang dihari tua dan banyak pula yang memilih tidak pulang sampai akhir hayatnya.

Sepanjang pengetahuan ku hanya satu Abo (Panggilan untuk kakak laki laki dari Nenek) yang pulang dihari tuanya Abo Jala namanya Nenek ku sangat mengormati beliau walaupun beliau bukan abang kandung beliau. Pertalian darah terjalin anatara ibunya Abo Jala dengan ibunya Nenek. Rasa persaudaraan diantara generasi nenek sangat kuat hampir semua orang dikampung ada saja hubungan tali persaudaraan kami. Ada lagi adik nenek saudara ibu namanya nenek kasimah beliaupun juga dekat denganku sampai akhir hayatnya aku mengendongya memasuki liang lahat saat aku masih bekerja di Lhokseumawe Aceh. Beliau meninggal di Medan dirumah anak perempuannya, Nenek ini juga sama seperti Nenekku hanya punya satu anak perempuan yang kupanggil etek dan satu anak laki laki yang kupanggil Inggi. Mazda capella merahku kupacu dari Lhokseumawe menuju Medan saat dikabari bahwa beliau meninggal pada tahun 1998.

Kami adalah dari keturunan suku Melayu. Nenek hanya punya satu anak perempuan yaitu ibuku dan satu anak laki laki pamanku aku memanggilnya Adang. Ibuku punya dua anak laki laki aku dan adiku. Dan kami adalah the last melayu on board dari keturunan nenekku. Kebesaran suku melayu dari garis keturunan nenek berhenti disini. Sesuai dengan sistem masyrakat minang yang menganut azas matrilinial. Masa kecil nenek cukup bahagia di Medan. Sayang ayahnya keburu meninggal pada saat dia beranjak remaja. Kemudian beliau menikah dengan seorang Jaksa, setelah punya dua anak yang masih kecil kecil Ibu dan Paman, suami beliau meninggal inilah awalnya nenek bersahabat dengan penderitaan panjang. Nenek tidak menikah lagi sama seperti Ibuku sejak Ayah meninggal lebih memilih menjadi Single parent.

Awal tahun 1970, Ibuku yang sudah jadi karyawan Bea dan Cukai pindah tugas kan ke Kijang Tanjung Pinang, Ibu berangkat duluan ke Kijang sedangkan aku belakangan menunggu surat pindah dari sekolahku keluar. Nenek kemudian kembali kekampung. Tanpa nenek yang mengawasi hari hariku menjadi liar.

Jelang memasuki kelas Enam di SD III Kijang. Ibu dan aku menumpang di rumah seorang dokter SM, saudara sesama dari Maninjau, beliau adalah Bos dokter di Rumah sakit Umum Tanjung Pinang, rumahnya sangat besar dan berada disebelah RSU tersebut. Aku diberitahu Ibu besok pagi temui om dokter SM itu , untuk melaksanakan sunat rasul. Aku hanya mengangguk. Pagi pagi setelah mandi dan rapi rapi, Ibu berangkat ke kijang yang berjarak 30 km ke kantor tempatnya bekerja sambil mencoba mencari rumah dimana kami akan tinggal berikutnya. Aku jalan kaki menemui om dokter RSU dan mengatakan “Om kata ibu saya mau sunat”. Tak ada kain sarung dan orang yang mengantar. om dokter SM langsung berdiri dari meja kerjanya dan berkata “ayo” sambil mengajaku berjalan bersama memasuki ruang operasi, tak ada basa basi atau formulir yang mau diisi.

Aku terbaring ditempat tidur operasi dengan melihat lampu besar diatas kepalaku, Om dokter dan beberapa perawatpun beraksi. 15 menit kemudian terdengar suara om dokter ” Sudah kamu sekarang resmi menjadi seorang Muslim” katanya. Pakai celana itu lagi dan jangan dibuka perbannya, tiga hari lagi kita buka jahitannya”, Aku hanya mengangguk sambil bertanya “Om boleh naik sepeda”. “Besok boleh jangan hari ini” katanya. Tak ada hadiah, tak ada yang menemani aku kembali ke rumah om dokter tempat kami menumpang. Tahun 2004 sehari sebelum aku berangkat oversea assignment ke Afrika aku sempatkan menemui Om dokter yang sekarang tinggal di jakarta timur menikmati hari hari tuanya kusalami tangannya dan mengucapkan terima kasih.

Di kijang kami tinggal di bekas gudang cina daerah dekat pelabuhan. Daerah tersebut terkenal dengan nama Barek Motor. Di sebelah rumah ada Kantor Jaksa dan pak jaksa bujangan juga tinggal dan berkantor disana. Saya sering jadi kenek Pak Jaksa tersebut dan selalu dikasi duit. Pak Jaksa inilah jadi penyelamat saya karena Ibu tak pernah memberi uang jajan . Dan bukan itu saja Pak jaksa juga punya kekuasaan hebat dia bisa ngambil mercon dan mainan ditoko cina tanpa bayar dan langsung dikasikan saya. Kalau lebaran tiba kantor yang merangkap sebagai rumah pak jaksa penuh kue dan minuman pemberian para warga tionghua donatur setia beliau. Selama bersekolah di SD III ini aku punya sahabat akrab DP dan RP, DP anak direksi Tambang Bouksit dan satunya lagi adalah keponakan beliau. Pulang sekolah kebanyakan waktuku habis bermain ketempat mereka dan tak jarang aku langsung makan siang ditempat mereka. Sayang setelah lulus SD mereka pindah dari Kijang dan tak pernah
lagi bertemu hingga saat ini.

Ibuku adalah seorang karyawan rendahan uang gaji beliau walau sudah berhemat masih tak cukup dimakan untuk satu bulan. Aku masuk SMP Negeri Kijang, saya pernah mencoba mengirim surat kepada presiden Suharto untuk minta bantuan bea siswa, tak berapa lama saya mendapat balasan dengan stempel Kabinet Pembangunan yang berisi tentang penjelasan bea siswa dan tata cara mendapatkannya. Sebenarnya saat kelas satu SMP saya sudah goyah, melihat kondisi ibu yang diserang penyakit Psoriasis. Gajinya yang sedikit yang tidak cukup dimakan satu bulan harus membeli obat pula. Pulang sekolah saya selalu memetik daun ubi di kebun orang untuk ditumis campur cabe rawit. Karena inilah saya mencoba menulis surat pada presiden. Penyakit psoriasis yang menyerang ibu ini adalah penyakit yang berhubungan dengan gen sampai saat ini belum ada obatnya. Selain harga obatnya mahal dan tidak pula bisa menyebuhkan hanya mengurangi saja, bila obat habis kembali bertambah parah sekujur
tubuh terkelupas. Penyakit ini juga menyerang saya sejak tahun 2000 pada tahun pertama saya resmi diangkat menjadi Karayawan tetap, tapi bedanya dengan ibu yang PNS saya bekerja di Perusahaan minyak terbesar di dunia.

Kenangan manis di SMP Kijang dengan kawan kawan adalah salah satu tak mudah hilang dari kepalaku. Nonton gratis di bioskop aneka tambang yang masuk lewat belakang karena sahabatku Gong Li yang ayahnya jadi pengurus bioskop gratis untuk para staff Karyawan Aneka Tambang, dan berenang di kolam renang yang juga gratis.

Berurusan dengan pak Polisi
Setelah lulus SMP tahun 1973 saya melanjutkan ke SMA Tanjung Pinang yang berjarak 30 km dari Kijang, kami anak kelas satu masuk siang. dari kijang ke pinang kami naik bis persis seperti metro mini (mereka memanggilnya uspen) disediakan oleh PT Aneka Tambang Bouksit buat anak anak karyawan mereka. Karena tak pernah bayar uang sekolah masuk sekolah pun mulai tak jelas. Bahkan lebih sering nongkrong dipelabuhan kapal Tanjung Pinang, bahkan aku paling sering menumpang sampan menghabiskan waktu di Pulau penyengat negeri asal Penyair Gurindam Dua Belas yang terkenal itu. Giliran tiba waktu membawa rapor pulang aku mulai kebingungan, gimana caranya uang sekolah belum dibayar masuk jarang gimana bisa dapat rapor. Dalam kepanikan inilah saya mencuri blanko rapor kosong disekolah dan mengisi sendiri nilai nilainya, memalsukan tanda tangan guru dan mencuri stempel sekolah karena buru buru cap stempel terbalik capnya diraport saya.

Inilah awal bencana ibu langsung membawa raport menghadap kepala sekolah, dan ibu pula yang bersikeras memaksa pak kepala sekolah untuk melaporkanku kekantor polisi. “Rule must be put in place” yang salah harus dapat hukuman kalau tidak anak saya tidak pernah belajar. Hasilnya saya masuk lokap 21 hari di sel tahanan polisi Tanjung Pinang. Untung lah kasus ini tak berlanjut ke pengadilan polisi setangah hati meneruskan perkara ke pangadilan gara gara penyalahgunaan stempel sekolah. Selama dalam tahanan di kantor polisi saya tidak digabung dengan tahanan dewasa lainnya. Saya menempati kamar sebelahnya yang sebenarnya diperuntukan untuk wanita, walau pintu sel tidak pernah di kunci saya tak bisa keluar karena harus melewati pos jaga didepan. Padahal kalau stempel tidak terbalik dan ibu dapat kukibuli rencana jangka panjang saya adalah pulang kampung tinggal bersama nenek dan akan bersekolah di dimaninjau. Surat pindah sudah saya siapkan lengkap dengan
tujuannya SMA Maninjau.

Selama ditahan 21 hari ini saya diberi tugas oleh pak polisi untuk setiap hari mengambil makanan para tahanan ke Penjara di Tanjung pinang. Dari balik jeruji tahanan dewasa polisi itu saya berinteraksi dengan para tahanan yang terdiri dari orang orang cina penyeludup dan maling maling. Bos bos cina tersebut ada yang menyuruh saya membeli rokok dan makanan pada saat saya mengambil makanan ke Penjara. Setelah saya keluar pernah saya temui salah satu toke kapal arang yang menyeludup ke malaysia dan singapura tersebut dan mereka menawarkan saya kerja dikapal mereka yang bolak balik ke malaysia membawa arang dan pulangnya membawa alat alat electronic dan apa saja yang bisa dijual di Indonesia. Tapi saya lebih tertarik menyelesaikan sekolah dulu. Minimal ijazah SMA harus masuk kantong dulu setelah itu akan kuturutkan kemana kaki melangkah. Kalau sekarang mungkin minimal S1 dengan IPK terbaik harus masuk saku dulu, setelah itu you can do whatever you want.

Kembali ke bangku sekolah
Keingingan besar untuk mengantongi Ijazah SMA inilah yang menjadi driver utamaku untuk melanjutkan pertarungan yang tertunda, 1975, karena tak bisa lagi sekolah si SMA Tanjung pinang tak ada pilihan lagi selain Pulang kampung ketempat nenek. Karena sudah bulan april satu kwartal sudah berlalu saya tak bisa diterima di SMA Maninjau karena sudah berjalan satu kwartal saya baru mau mulai lagi sekolah. Terpaksalah pergi ke Lubuk Basung diantar Nenek saya. Mungkin karena kasihan Kepala sekolah SMA Filial Lubuk Basung langsung menerima saya beliau menulis remarks dirapor saya “Tidak ada Nilai karena sakit sakitan”. Sungguh bijaksana bapak itu kalau beliau maju jadi caleg pasti akan saya pilih dia. Di Lubuk Basung ini saya habiskan tahun 1975.

Bila tiba hari sabtu saya jalan kaki ke Maninjau untuk pulang ke tempat nenek mengambil bekal untuk satu minggu kedepan, perjalan ini biasanya saya tempuh selama lima jam. Air yang mengalir disepanjang jalan ditepi sungai Antokan ke bawah terasa nikmat sekali mengalir ditengorokan saya. Di Lubuk basung ini untuk cari uang tambahan saya bekerja sebagai kuli panggul menurunkan karung karung berisi jenkol yang berdatangan dari perdesaan sekitar dari truk dan gerobak. Ini biasaya saya lakukan sesudah magrib. Belajar? A ha yang satu ini hanya disekolah saja. Begitu keluar dari sekolah otak saya hanya berfikir “bagaimana mengisi perut”. Setelah naik ke kelas dua IPS, walaupun sebenarnya saya tak bego bego amat di pelajaran aljabar, kimia dan fisika tapi karena blank di kwartal pertama banyak merah di kwartal ke dua dan enam semua dikwartal berikutnya. Kelas II IPS adalah yang tepat buat saya.

Pindah ke SMA Negeri Maninjau setelah di legalisasi oleh SMA Filial Lubuk Basung. Masa masa indah di maninjau saya jalani dengan nikmatnya rokok SOOR, yang dibeli dari upah panggul menurunkan barang dari pedati sang kusir Pedati bernama Bang Ujang. Waktu pulang kampung tahun 2006 setelah dua puluh tahun tak pernah mudik sejak tahun 1986 membawa nenek ke Jakarta, saya jumpai sang pemilik pedati dan bertanya “Mana pedatinya bang?”. “Sekarang Pedati tidak laku lagi sudah berganti dengan Pedati Besi”, katanya dengan senyum yang hambar. Dimaninjau ini pula saya pernah jadi petani bertanam kacang tanah, setiap malam harus dijaga sampai bertunas menghidari gangguan babi. Pada saat saya menulis ini terbayang oleh saya saat memetik hasil panen bersama Nenek, kami harus berlomba dengan Kera – kera yang juga berpesta. Kami mencabut didepan kera kera itu mencabut dibelakang kami sedih, tertawa, marah bersatu jadi kenangan indah.

Maninjau pada masa masa itu terkenal dengan cengkeh. Kalau pada musim cengkeh kantong saya tebal dengan rupiah apakah dari hasil mencuri cengkeh saudara atau dari upah memanjat cengkeh yang tak pernah jujur karena selalu saja ada yang saya gelapkan. Saudara saya tahu apa yang saya lakukan tapi beliau pura pura tidak tahu. “Wah dia besar dirantau, mana bisa dia memanjat Cengkeh”, kata mereka. Dalam hati saya tersenyum, jangan under estimate bang. Kenangan kampung bagiku jauh berbeda dengan kawan kawan minang lain yang dibesarkan dari surau ke surau dibawah pengawasan orang orang tua mereka.

Di maninjau aku tinggal di pasar Maninjau tempat berkumpul segala macam tingkah polah para preman terminal dan pasar. Kalau aku ke Payakumbuh ketempat Ayah juga dipasar dekat terminal bus Nunang namanya. Segala macam tinggkah polah orang pasar yang tumbuh berkembang di kepalaku. Kehidupan manis di Maninjau ini berakhir dengan sebuah berita yang disampaikan oleh pak guru SMA Maninjau ada telpon dari Rumah sakit umum Bukit Tinggi. “Ayah saya sakit keras “. Dari cara pak guru menyampaikan berita saya bisa menebak Ayah sudah tiada. Setelah mengemasi buku buku pelajaran saya pulang dan memberitahu nenek, saya mau RSU Bukit Tinggi. Ayah meninggal.

Entah dari mana nenek meminjam uang lalu dia memberi saya ongkos. Berangkatlah saya ke Bukit Tinggi dan langsung kerumah sakit umum disana saya temui adik saya sedang termenung. Dia saat itu baru kelas satu SMP kami hanya dua bersaudara, laki laki pula dia juga berjuang sendiri mencari garis tangannya dan tidak kalah kerasnya dari saya karena Ibu hanya mampu menyekolahkan kami berdua sampai SLTA itupun sudah kami syukuri sepanjang hayat kami berdua.

Kini adiku satu satunya itu berhasil pula berkarya di sebuah Bank terbesar di Indonesia dan bergelar master pula. Pada haru tuanya Ibu mondar mandir, kalau bosan dirumah adikku beliau kerumahku. Kadang kadang beliau mengomel coba kalau punya anak perempuan Aku pasti betah dengannya. Kami berdua selalu berkata Tuhan itu lebih tahu apa yang terbaik buat Ibu. Menurut adikku ayah sudah jatuh sakit saat saya pulang kampung saya tak diberitahu mungkin beliau masih menyimpan kemarahan akan keamburadulan saya celana yang menyapu jalan sepatu hak tinggiku rambut kribo membuat gigi beliau selalu sakit. Setelah sakitnya semakin parah ia minta pulang kekampungnya di Nunang Payakumbuh. Agar ada yang menemaninya ikutlah adik dengannya pulang kampung ke Payakumbuh. Sementara Ibu dipindahkan oleh kantornya ke Bagansiapi siapi dari Kijang.

Satu lagi chapter baru dalam kehidupan saya, Setelah ayah meninggal kami berdua berangkat ke Bagansiapi api dan tinggalah kami bertiga bersama ibu. Pertengahan tahun 1976 saya masuk di SMA Negeri Bagan Siapi-api. Disini saya sangat menikmati lari pagi sambil ngambilin buah-buahan seperti apel, jeruk dan lain lain, di atas meja sembahyang orang orang cina yang diletakkan di depan rumah mereka.

Di depan rumah kontrakan kami di bagan ini tinggal seorang Jaksa. Beliau sangat hobi main catur. Beranda didepan rumahnya selalu ramai dengan anak anak muda yang diajaknya main catur hampir semua dibuatnya tumbang. Setelah beberapa kali mendekat akhirnya saya dapat kesempatan bermain dengan beliau. Sebenarnya beliau tidak pintar pintar amat saya tak butuh waktu lama untuk menghajarnya tapi tidak saya lakukan bahkan sering saya beritahu “awas pak” kuda itu atau mentri itu bakal melayang” atau saya bilang jangan buru buru pak lihat dulu itu terbuka dan sebagainya, cara saya ini membuat kami kalau main selalu lama dan hampir semua permainan saya biarkan dia yang menang. Gara gara main catur begini perkawanan kami semakin akrab. Saya sering dibawa keluar makan dan dia bilang kalau mau nonton di bioskop dia bisa masukan saya gratis kapan saja saya mau. Jadilah setiap malam saya minta memonya untuk nonton gratis dan kemudian saya jual.

Suatu hari pak jaksa mengajak saya kerumah seorang toke cina, entah apa yang dia bicarakan didalam manalah saya tahu. Karena lama menunggu di ruang tamu sang Toke cina saya lihat ada gitar merek Kapok, lalu saya ambil dan mainkan pelan pelan. Pada saat pak jaksa keluar dia lihat saya main gitar, lalu dia bilang “kau bisa main gitar” dia lalu melirik ke cina pemilik rumah sambil berkata “Untuk dia saja gitar itu ya?” . saya hanya melihat sang pemilik menganggukan kepala dan jadilah gitar itu hak milik saya yang akhirnya saya jual juga karena uang lebih menarik dari barang saat itu. Hebat sekali pak Jaksa kita dalam hati saya. Persahabatan saya dengan pak jaksa ini bukanlah persahabatan saling menguntungkan karena saya yang paling banyak diuntungkan. Dapat pakai motor pak jaksa dengan gratis dll. Sampai suatu hari dia bilang “Kalau kau tamat SMA masuk hukum saja di salah satu universitas di Pekan Baru, nanti saya bantu saya kenal dengan banyak dosen dosen
disana katanya, Dekannya pun saya kenal tambah beliau.

Pertemanan ini berantakan karena saya menolak mengumpulkan teman teman SMA saya untuk ikut kampanye pemilu dibawah bendera partai pemerintah waktu itu dan membagi bagikan uang dan kaus gratis agar barisan kampanye jadi ramai katanya. Dia tahu semua anak SMA yang tukang nogkrong dipasar adalah konco konco saya. Sebenarnya saya tak ada urusan dengan partai tersebut dan uang lebih menarik dari idealisme, tapi dendam saya sama sang peresiden belum mau hilang karena menolak memberi saya beasiswa. Ini membuat saya tidak mau terlibat dan dilibatkan dalam pemilu kalau sekarang lebih populer dengan golput. Sepanjang hidup saya baru satu kali saya nyoblos pemilu th 2004 aneh bin ajaib saya memilih partai yang dulu saya benci alasan saya sederhana sang pendiri sudah tumbang sementara partai yang lain tak jelas juntrungannya.

Kenakalan saya waktu di SMA Bangan sudah kelewatan pernah satu kali gara gara menikmati anggur vigor setiap jam istirahat, hampir saya dikeluarkan dari SMA Negeri Bagan siapi api. Sebenarnya ada banyak alasan kepala sekolah dan guru guru untuk mendepak saya keluar. Entah apa yang membuat mereka selalu saja memberikan warning warning dan warning lagi… Hari ini saya bersyukur pak guru wali kelas saya dengan sabar memanggil saya dan terus menasehati saya berulang ulang. “Zul, suatu hari nanti kau akan berterima kasih sama saya”. Kata beliau. Yup beliau benar hari ini saya berterima kasih yang sebesar besarnya buat walikelas saya Pak Guru Nurdin .. TERIMA KASIH PAK.

Main kartu selama liburan bulan puasa sudah biasa, kalau menang puasa terus, kalau kalah langsung buka. Trik menyelipkan beberapa katru disela kelingking adalah makanan saya kalau saya yang mengocok kartu selesailah uang dimeja saya makan. Ada suatu kali hari itu hari mengambil raport kenaikan ke kelas III, saya sibuk nyari kawan untuk mengambil rapor saya karena rapor harus diambil orang tua. Saya tak pernah bilang sama Ibu masalah rapor ini. Masuklah sang kawan main saya kekelas setelah dia masuk baru saya sadar dia hanya tahu nama panggilan saya “acuh” yang diberikan kawan kawan SMA.

Saat diumumkan Juara satu “ZK”, dia diam saja. Saya mulai panik kemudian saya dari luar berteriak, “ARRR, ambil”, untung dia berdiri dan diberikan pak guru yang membagikan rapor. Setelah itu kami berdua tertawa terbahak diluar…

Saya lulus SMA juara umum pula mungkin para guru kami tidak menarik garis korelasi kenakalan saya dengan nilai ujian. Padahal sehari sebelum ujian begadang sampai pagi bersama abang abang tukang becak. Mengikuti ujian hari pertama dengan mata terkantuk-kantuk. Tiga bulan sebelum ujian saya mendengar ada penerimaan pegawai baru di BNI 46 cabang Bagan Siapi Api. Saya nekat memasukan lamaran dengan modal raport kelas tiga SMA. Sebulan kemudian ada dua puluh orang termasuk saya dipanggil untuk ikut test semua soal saya jawab. Dua hari setalah menerima Ijazah saya dapat panggilan untuk datang ke Kantor BNI. Saya hubungi semua kawan kawan alumni SMA yang ikut test dengan saya kecuali yang ada beberapa yang bukan orang Bagan. Sambil bertanya apa mereka dapat surat dari Bank Milik Negara yang Terkemuka Semua kawan menjawab dapat tapi surat maaf anda belum berhasil.

Karena masih anak SMA bloon saya tidak menyadari itu adalah wawancara dengan Pimpinan Bank hari itu adalah hari YES or NO. Karena yang datang untuk wawancara hanya ada dua orang saya dan seorang wanita yang tak pernah saya lihat di Bagan siapi api sebelumnya. Dengan menenteng Ijazah SMA yang masih baru dan wangi saya dipanggil masuk. Setelah mereka meperkenalkan diri salah satu dari tiga orang tersebut bertanya ” Kok kamu berani memasukan lamaran padahal belum tentu kamu lulus”. Saya jawab dengan super yakin “Kalau saya tidak yakin saya lulus saya tidak melamar pak, ini dia Ijazah saya sambil menyodorkan ke hadapan beliau”. Dari atas kebawah berjejer angka delapan satu angka limaberwarna merah untuk bahasa arab angka enam olah raga. Saya jelaskan lima itu karena saya pindahan dari tiga SMA, di SMA pertama dan kedua kami belajar bahasa jerman di Bagan kelas tiga bahasa Arab habislah saya pak. Kalau olah raga dapat enam karena saya tidak suka senam pagi
Indonesia itu dan tak pernah ikut, kok rasanya seperti waktu penjajahan jepang padahal kita sudah lama merdeka.

Akhir dari wawancara saya disuruh menunggu dirumah. Kemudian saya katakan “Pak waktu saya hanya satu minggu, kalau lebih dari itu, saya anggap saya gagal”. Setelah satu minggu tak ada kabar berita saya berkata sama sama kawan kawan saya yang sedang bergembira akan melanjutkan kuliah dan bercerita tentang universitas, akademi dan lajutan berikutnya. Dengan suara keras dan lantang saya berkata ” I will beat this damned world my friend”, tidak ada yang tahu saya sebenarnya terpukul telak oleh kemiskinan karena tak punya biaya untuk melanjutkan kependidikan lebih tinggi. 30 tahun kemudian saya kembali ke Bagan bersama anak, Istri dan Ibu saya melihat Bagan telah berubah , dari kota ikan jadi kota burung layang layang. Dari kecamatan jadi kabupaten. Dulu tak ada mobil, sekarang jalan-jalan sudah macet. Lelaki itu harus berbuat sesuai dengan apa yang diucapkannya. Awal tahun 1978 setelah tak ada berita dari Bank tersebut dan waktu yang saya berikan terlewati
walau belakangan hari saya menyesali kebodohan saya, yang mau kerja itu saya bukan pejabat Bank tapi nasi sudah jadi bubur..

Dengan menumpang kapal kayu pengangkut belacan dan ikan asin yang baunya minta ampun selama dua hari dua malam akhirnya saya memijakan kaki saya di pelabuhan tua sunda kelapa. Tanpa sepeserpun uang disaku yang ada hanya sebuah alamat di dalam kepala “Tanah Abang” aku pun sudah lupa kapan pertama kali mendengar nama Tanah abang ini, mungkin di film barangkali. Tak ada kawan dan saudara. Jalan kaki dari Sunda Kelapa ke Tanah Abang sambil bertanya pada setiap orang. Setiap langkah semakin mantap karena ternyata semua orang tahu Tanah Abang, dan rupanya ia benar benar ada. Yes, I am here, Tanah Abang. Saking kelelahan tertidurlah badan di Mesjid lantai atas tanah abang. Bangun-bangun adzan Magrib dan sepatu kesayangan pun lenyap, saat mencari cari sepatu yang hilang inilah bertemu dengan beberapa orang anak muda minang Buyung dan Syaf yang berjualan “Air Haus” istilah mereka waktu itu. Mereka pun mengajak sama sama mereka. Berjalanlah ke daerah bongkaran,
daerah kumuh, suara musik melengking yang terasa aneh ditelinga, belakangan saya tahu itu musik daerah jawa barat.

Kamar kontrakan sempit yang sudah dihuni oleh 4 orang, Buyung, Asbar, Arifin, dan Syaf ditambah saya satu bertambahlah sumpeknya. Hanya ada satu lampu. Asbar kerja sama Rifin. Mereka Jualan kaos 3 sepuluh ribu, Buyung join sama si Syaf jualan air haus dan berencana mau buka sendiri. Arifin berasal dari Tiku, buyung asbar dan Syaf berasal dari pariaman mereka berempat semua kelahiran Medan. Arifin sekarang sudah sukses dengan bisnis konveksinya. Asbar kembali ke Medan dan berjualan dari pajak ke pajak dalam kamus hidupku juga masuk kategory berhasil karena mampu mengirim anaknya ke univerwsitas. Aku pernah mengajaknya menikmati hotel Bintang lima Medan saat aku ada dapat training diMedan tahun 1998. setiap aku ke medan aku selalu mampir kerumahnya dan tak pernah tidak. Buyung tetap di Jakarta entah beribu kali pula bertukar profesi sampai terdampar berjualan di Glodok. Ia juga dalam kamusku masuk kategory sukses karena sudah mampu memiliki rumah sendiri
di Kalideres dan tiga Anaknya di pesantren ternama di Jawa Barat.

Pada saat kami masih berputar di Tanah Abang kami selalu berkumpul bersama setiap jam 7:30 menjelaang makan malam. Kami sama sama makan diwarung milik orang Bukit Tinggi di pinggiran Projet tanah Abaang. Beliau memiliki anak gadis cantik yang selalu membantu. Arifin adalah yang adalah yang paling berduit diantara kami tapi dia tidak bisa menulis dan membaca tapi dia pula yang paling tekun dan serius tak banyak bicara bahkan cendrung pemalu. Dia tertarik dengan anak penjual nasi tersebut yang berinitial D. Mulailah ku olah sebuah surat perkenalan seolah olah datang dari si D untuk rifin dan dibacakan oleh Asbar. Kemudian si rifin memintaku membalas, balas membalas surat ini sebenarnya aku seorang yang menulis. Lebih dari tiga bulan kami makan gratis dibayarin rifin, dia pun yang terkenal pelit sekali mulai berbaik hati pada kami bertiga, sampai kami semua berpisah. Aneh bin ajaib mungkin kebesaran Tuhan lima tahun kemudian Si Rifin resmi menyunting so D.
sampai hari ini mereka adalah pasangan yang setia. Allah Maha Besar

Suatu hari aku bersama si Saf mendorong gerobak haus . Kami mendorong gerobak ke Senayan karena katanya ada bola. Sampai di Senayan tak ada apa apa, karena itu malam minggu didoronglah gerobak menuju Taman Ria monas menyusuri Thamrin yang penuh dengan lampu dan gedung gedung bertingkat. Sambil mendorong gerobak, saya tak henti hentinya melihat gedung gedung mewah itu yang dulu hanya di film-film sekarang jadi nyata di depan mata. Tak pernah terbayang oleh saya bahwa 20 tahun kemudian saya akan sering menginap disana. Hanya dua bulan saya ikut si Saf. Karena terlalu sering berjualan di Taman ria monas, saya berkenalan dengan arek arek dan keluarlah saya dari grup minang. Jadilah saya anak monas yang akrab dengan Taman Ria dan Casino Cendrawasih yang terletak di dalam Jakarta fair yang menghirup setiap rupiah yang saya punya. Malakin supir taksi setelah naikin penumpang adalah kerjaan rutin saya kalau untuk makan tinggal comot saja dari pada para pedagang
kakilima yang bertebaran disekitar monas, terkadang saya minta duit mereka. Kok tega-teganya saya ,orang cari makan secara halal dikerjaain. Akhir dari semua ini harus saya bayar dengan kepala menerima 12 jaitan dan bukan itu saja saya pun tergeletak terserang typus hampir berlayar jauh.

Sebelum berakhir th 78 saya keluar dari Jakarta. Sepanjang tahun 1979 saya masih mengikuti alur kemanakah gerangan garis tangan akan membawa saya. Bali, Lombok, Sumbawa, Bima saya rambah dengan berbagai jenis pekerjaan saya lakukan untuk bertahan hidup. Mulai dari kuli bangunan, jualan bubur kacang hijau dengan gerobak berkeliling, Ikut berjualan keliling antar pulau pulau kecil di sekitar NTB sampai pula ke labuhan bajo akhirnya kembali ke bali kerja di Swiss Restoran Bali dan berlanjut jadi guide bebas artinya mundar mandir di Kuta.

Tak puas sampai disini entah apa yang ada dikepalaku waktu itu tahun 1980 sepasang kaki ini membawaku ke Muaradua Sumatera Selatan, sebuah profesi baru sebagai Guru di SMP Cokroaminito pagi hari dan SMA Muhammadiah sore hari, he he modalku cum Ijazah SMA jurusan IPS. 27 tahun kemudian, tahun 2007, saya kembali ke Muaradua ada tiga mantan murid saya jadi Camat, satu jadi kepala transmigrasi dan satu lagi bendahara pemda. Mereka pada datang menemui saya sambil bernostalgia akan masa masa lalu mereka. Apa yang kudapat di Muaradua ini?. Adalah sebuah tali persaudaraan dengan keluarga pak R yang juga orang maninjau yang tak pernah pulang kampung yang beristrikan orang dari satu daerah yang bernama Kisam diperdalaman wilayah Muara dua ini. Selama setahun aku tinggal dengan mereka dan tak pernah memberi kabar sejak aku meninggalkan muaradua selama 25 tahun. Tiba tiba aku berdiri didepan pintu rumah mereka. Sebagai balas jasa dan terima kasih atas kebaikan
mereka yang kuterima dulu kubawa mereka sekeluarga jalan jalan ke Jakarta selama seminggu berkeliling di semua tempat wisata serta shoping serderhana di Mangga dua. Kulihat airmata mengalir diwajah ayu istri bang R. Entah apa yang sedang berkecamuk dalam fikirannya. Kejemput dari muaradua dan kuantar seminggu kemudian setelah kubawa berkeliling kota jakarta yang seumur umur belum pernah dipijaknya. Melihat orang lain bahagia aku merasa terbang keangkasa.

Berhenti disini sejenak memikirkan tentang kehidupan yang lalu. Semua ingatan akan masa lalu tak berarti apa apa, hanya sebagai perbincangan beberapa menit saja. Apa yang pernah saya pikir penting, atau yang benar-benar saya kejar, atau yang saya coba hindari, kini semuanya adalah bagian dari masa lalu. Apapun yang mengingatkan saya pada pikiran-pikiran dan perasaan ini, itu hanyalah kenangan. Aku masih mencari, 1981 kembali ke Jakarta, Monas – Taman Ria dan sekitarnya, kembali tempat uang mudah dicari. Tujuannya hanya satu cari uang bikin passport dan terbang juah jauh. Dengan menumpang Tampomas yang masih gagah kala itu awal tahun 1982, aku menuju Tanjung Pinang.

Tuhan seakan memuluskan jalanku karena dikapal aku berkenalan dengan seorang pelaut dari Menado HR namanya dia adalah electrician menurut pengakuannya dan dia sudah berulang kali naik kapal. Bersama HR kami lanjut naik ferry ke negeri tuan Rafles. Begitu menginjakan kaki di Singapura uang disakuku tinggal lima puluh rupiah. Aku seperti kebingungan tak tau mahu kemana. Kemudian HR mengajakku bersamanya menginap di losmen yang kemudian kutahu itu adalah Geylang Lorong Empat. Dimana banyak rumah rumah tumpangan. Esok harinya HR membawawaku ke Cliford pier atau lebih dikenal dengan nama Anting. Disana banyak sekali Indonesia yang berniat mencari kerja sebagai pelaut baik yang baru seperti ku maupun yang sudah penuh pengalaman.

Cita cita baru ku ingin keliling dunia dengan cara jadi pelaut. Jadi pelaut tak bertahan lama berakhir dengan 20 hari masuk Sel di Muscat Oman. Tuhan punya rencana lain yang aku tak pernah tahu. Inilah suara takdir “Bila tiba saatnya, kau akan keliling dunia lewat udara dengan SQ dan duduk di muka. Kursimu bernomor 1A. Kata orang, the best Airline in the world”. yang dulu tak pernah sampai ke telingaku. Aku juga tidak pernah tahu 16 tahun kemudian aku melihat kembali jalan jalan yang dulu pernah kutapaki dari berbagai kamar Hotel 5 Bintang di Singapura ini. Terbayang kembali saat kehausan masuk toilet bayar 10 sen untuk melepas dahaga kalau orang ke toilet buang air, awak minum air.

Capek di Singapura tahun 1983 aku melangkah ke utara “Kuala Lumpur”. Dengan berjualan kue pau dengan becak diberbagai tempat Bas Stand Klang, Hospital, terminal Bus Pudu, ringgitpun mulai ke kantongku. Pada saat itu kebanyakan orang indonesia di KL berjualan buah di chowkit kalau tidak jualan buah ya jual makanan. Tidak sedikit pula orang kita yang berduit dari berdagang itu menghamburkan duitnya di Genting high land atau kalau tidak dengan rutine membeli nomor toto kuda. Hanya sementara saya menikmati manisnya uang malaysia, semua uang yang terkumpul saya kirimkan untuk Nenek saya di maninjau. Belakangan saya tahu dari cerita paman saya beliau sangat senang sekali dan langsung shopping ke Bukit Tinggi. Ini adalah yang pertama dan terakhir saya berbagi nikmat dengan almarhum nenek saya. Setelah itu saya masuk penjara pudu sembilan bulan karena berkelahi memecahkan kepala orang saya dikenai seksen atau pasal 326, masih untung dia tidak mati, kalau mati
satu nomor lagi turun 325 berakhirlah hidup didalam penjara kalau berencana pula 324 ini tiang gantungan hadiahnya.

Dibalik setiap peristiwa ada pelajaran. Seakan berulang, kembali lagi disini saya tidak mendengar suara Takdir bahwa 16 tahun kemudian saya akan kembali lagi kemari sebagai turis dan melihat Penjara Pudu ini menjadi Museum. Disini di kamar no 42, pertama kali dalam hidup saya melihat para pencandu heroin tak bisa tidur bermalam malam yang belakangan saya tahu itu namanya sakau. Disini pula bertemu dengan kawan sewaktu SMP Kijang MR dan UT anak ST Kijang. Ah, reuni kok di penjara pudu. Di penjara ini saya melihat orang kena cambuk, ini kelihatan dalam antrian ke klinik didalam penjara tersebut. Bermacam macam tingkah polah pelaku kriminal saya lihat disini. Tahun tahun 82,83,84 generasi muda Malaysia dihantui oleh dadah ini. Hampir disetiap sudut pasar, di toilet toilet umum akan kita temui dengan mudah timah rokok untuk membakar dadah tersebut. Orang orang teler berkeliaran. Mungkin karena petaka inilah adanya hukuman mati di tiang gantung untuk kes
dadah ini . 15 mg tewas, dibawah itu puluhan tahun dan seumur hidup. Urine test dimana mana. Entah sekarang sudah berobah saya tak tahu. Setiap adanya eksekusi hukuman mati seisi penjara malam itu memukul mukul ember palastik dan terikan lai liau yang bergemuruh , sebagai ucapan selamat jalan bagi teman mereka.

Setelah sidang berkali kali kawan yang mengadu tidak pernah datang ke pengadilan akhirnya dengan berat hati pak hakim membebaskan saya. Karena saya memegang Red Card nya Malaysia , saya tidak dipulangkan ke Indonesia. Akhirnya saya memutuskan kembali ke Singapura dan mencoba lagi peruntungan disini, kerja selama enam bulan dipabrik Beer Tiger dengan modal IC merah malaysia. Saat itu mudah mendapatkan work permit enam bulanan di Singapura. “Ibu sakit keras ” begitu yang tertulis dari telegram yang kuterima yang membuatku berfikir ulang untuk terus berjuang di luar hanya ada satu kata “Pulang”.

Ke Jakarta aku kembali seperti lagu koes plus, Setelah ibu baikan, aku memilih berkeluarga. Mulai mencari kerja dengan sebuah kartu nama tua yang tersimpan dirumah pemberian seorang turis bule yang ketemui di Swiss Restorant Bali beberapa tahun silam. Beliau salah satu expatriate di pabrik kaset ternama B di jalan Lodan Raya. YVE initialnya. ” I am leaving soon zk” katanya. kalau saja ku temui beliau tiga tahun lalu akan lain ceritanya. Sementara adikku sudah bekerja di sebuah bank pemerintah dia melangkah dengan mudah lewat olah raga karate yang ditekuninya dan dapat pula kuliah di sore hari dengan biaya bank tersebut. Aku masih luntang lantung. Kalendar yang terpampang didinding menunjukan tahun 1985. Dan aku baru saja berumah tangga tanpa pesta dan hura hura karena uang tidak ada. Istriku tidak mau tinggal diam life must go on. Dengan keahliannya urusan rambut dia bekerja di sebuah salon di kawasan pluit. Aku mulai merubah tongkrongan ke stasiun senen
menjadi calo dan kemudian bertranformasi menjadi supir taksi gelap.

Tanggal 2 may 1986, ada telegram dari Maninjau, Nenek sakit. Naik ALS saya pulang ke maninjau berdua dengan Ibu. Nenek tergeletak badannya tidak berfungsi sebelah, dia hanya bisa tidur. Ibu hanya dua hari dikampung dan kembali ke jakarta. Tinggalah saya dengan Nenek yang sedang terbujur tak bisa apa apa. Satu bulan saya mengurus beliau dari memandikan, menyuapin, dan membersihkan kotoran, serta mencuci pakaian kotor beliau. Kalau waktu saya kecil beliau yang menjaga saya nampaknya sekarang pay back time nek, kata saya. Tersungging senyum pahit dibibirnya. Karena penyakit nenek tidak ada perubahan dan saya tidak mungkin lama lama di kampung ini. Istri saya di Jakarta sedang hamil tua akhirnya saya dan ibu di jakarta memutuskan membawa nenek ke Jakarta. Diiringi derai air mata saudara saudara di kampung, kugendong nenek menaiki Bis sampai di bukit tinggi. Ketika membeli tiket Bis AC di Bukit Tinggi tak ada satupun Bis yang mau, alasan mereka kalau terjadi
apa dijalan bagaimana. Yang non AC pun sama sama menolak. Akhirnya saya buat perjanjian kalau nenek saya meninggal ditengah jalan tinggalkan kami berdua, dan kalian bisa jalan terus. Nenek tak bisa duduk dan berbicara lagi, yang bisa dilakukannya hanya mengangguk dan menggeleng. Dua hari dua malam dengan bus Non AC dan pandangan mata tak bersahabat dari para penumpang sampai juga kami di Pulo Gadung. Inilah nasib, mau dibawa ke rumah sakit uang tidak ada. Hampir setiap malam saya berdoa dipinggir ranjang nenek di rumah kami di Jakarta. Doa ku sederhana saja, ” Ya Allah, kami tak punya uang untuk membawa nenek ke Rumah Sakit. Yang ada, cuma hati dan kasih sayang. Bila Engkau berkenan, sembuhkanlah Nenekku dan bila kesembuhan bukan lagi pilihan, kami rela melepas beliau”. Jumat pagi, setelah 30 hari nenek di jakarta, beliau menghembuskan nafas terakhir. Sebagai rasa terima kasih untuk nenek yang menjagaku dengan kasih sayang dari kecil, kuantar beliau
hingga melepas tali kafan di liang lahat perkuburan di Jakarta Timur. Selamat jalan Nek.

Sempurnalah kemiskinan. Ibu adalah seorang PNS rendahan, kami tak pernah punya rumah sendiri, hidup selalu berpindah pindah, dari kontrakan ke kontrakan, dari tumpangan ke tumpangan. Lebih parah lagi, sejak aku masih di sekolah dasar, Ibu sudah menderita penyakit Psoriasis. Sekujur tubuh memerah dan mengelupas. Dengan kondisi seperti itu beliau selalu masuk kantor dengan rajin. Bolak kalik ke rumah sakit adalah hal rutin. Suatu ketika beliau down dan dirawat RSCM, hampir satu bulan masuk awal puasa sehingga kami berhari raya di rumah sakit. Giliran mau keluar, uang tidak ada yang mau dijual pun tak ada, ya satu satunya cara adalah kabur dari rumah sakit. Pagi pagi setelah mandi dan bersih bersih ibu berpakaian agak rapi walaupun wajah masih kelihatan pucat pada saat orang orang besuk mulai ramai disitulah kami pelan pelan menyusun strategi untuk keluar dan kabur dengan taksi yang sudah saya siapkan. Maafkan kami Dr Cipto. Sampai hari ini kami memang
tidak membayar biaya rumah sakit tersebut, karena aku merasa pajak yang kubayar setiap bulan jauh diatas biaya rumah sakit tersebut. 6 Juni 1986 anak pertama lahir, aku dan istriku mengontrak sebuah rumah kecil berdinding gedek di kawasan kali deres. Aku harus dirumah menjaga anak kecilku sementara istriku terus bekerja dengan penhasilan pas pasan. Inilah yang dinamakan ground zero. Otak ku seakan tak mampu lagi berputar hampir semua usaha sudah dicoba . Hijrah adalah sebuah kata yang terlintas. Dua hari menjelang hari raya di tahun 1988, kami berangkat ke Medan dan terus ke Lhokseumawe Aceh.

Ya Allah tunjukkanlah saya jalan untuk mendapatkan pekerjaan, tukang sapu pun jadi selama itu halal. Anakku akan tumbuh dewasa, Aku ingin membesarkan mereka dengan rezeki yang Engkau ridhoi. Itulah doa yang selalu kupanjatkan setelah bekeluarga dan punya anak satu masih juga tidak jelas kemana arah jalan hidup. ” BANG”, 20 October 1988. jam 00:00 adalah hari pertama saya kerja, shift malam sebagai Janitor atau tukang sapu saat ini lebih populer dengan sebutan OB (office Boy), kami berempat kerja bergantian, Aziz yang masih muda yang belakangan hari jadi supir, Pak Usman dan Pak Ibrahim tetap jadi janitor sampai dipensiunkan.

Pekerjaan tukang sapu ini berawal dari informasi yang kudapat dari salah satu orang yang baru kukenal bekerja disana. Katannya mereka membutuhkan empat orang pesuruh. Dengan menaiki mobil pekerja shift malam terselip dibelakang aku duduk sendiri. Sampai masuk kekawasan industri tersebut karena malam sekuriti yang menjaga tidak begitu teliti. Duduak diam sampai pagi. Jam 7 pagi aku langsung menemui seorang bule setelah diberitahu kawan yang memberikan info tadi dimana lokasi tempat bule itu berkantor. “Morning Sir”, I hear you are looking for janitor?, bule itu agak terkejut kemudian dia berkata “Yes, I need four” katanya. Aku masih berdiri dalam kebigungan, dia melanjutkan “go see mr YS, at Point A he is Services supervisor, tell him to call me at this number” sambil memberikan nomor telp. nya. Aku hanya mengangguk angguk kayak orang bego. Pada saat aku akan meninggalkan ruangannya di berkata ” bring your friend with you, I need four” katanya sambil
mengangkat empat jarinya. “ya” kataku. Aku bejalan keluar pabrik ada lagi satu tanda tanya didalam kepalaku dimana itu Point A, pada waktu melewati petugas satpam aku disetop. Sebelum dia bertanya aku duluan bertanya “Pak point A dimana?”. “Mana badge katanya?, tak ada kata saya, entah apa yang ada dibenaknya saya tak tahu kemudian dia berkata” Sana keluar?” seraya membentak. Sampai diluar pagar saya bertanya pada beberapa orang yang berdiri diluar pagar dimana itu lokasi Point A. Rupanya sekitar dua kilo meter jaraknya dari tempat saya berdiri. Sampai digerbang pintu Point A, saya langsung ke loket satpam, meminta tanda pengenal visitor. “Mau ketemu siapa kata pak satpam?”. saya menyebutkan nama yang diberikan bule tersebut. Pak Satpam langsung menelpon pak YS. Kemudian dia bertanya lagi “Mau apa?”. Dengan lugu saya ceritakan saya mau kerja jadi tukang sapu di Kilang LPG itu dan bule itu menyuruh saya menghadap pak YS dan dia perlu empat orang kata
saya.

Pat Satpam langsung berkata pak YS tidak ada ditempat. Besok saja katanya. Pulanglah saya hari itu, Besoknya pagi pagi saya kembali ke Point A, ketemu pak satpam yang sama dia memberi saya pass visitor. Setelah bertemu pak YS, saya katakan saya disuruh bule itu menemuinya untuk kerja sebagai janitor. Pak YS bilang sudah ada yang nasuk katanya. Empat orang sudah diterima kemarin katanya. Rupanya pak Satpam bergerak cepat merealisasikan informasi dari saya . Saya mencoba menenangkan diri saya sendiri. Saya katakan sama pak YS, “Pak bule itu meminta bapak menelpon beliau ini nomornya kata saya”. Kamu tunggu diluar, biar saya telp dia” katanya.Saya tak tahu apa yang terjadi dari pembicaraan tersebut. setengah jam kemudian saya disuruh ke sekuriti untuk membuat temporary badge dan diberi tahu kapan saya mulai kerja. Kami bekerja dibawah bendera PT Koalisi. Sebuah Kilang LPG yang baru beroperasi Lhoksukon , adalah nama tempat saya mulai bekerja di tanah air
tercinta ini. Bekerja bergiliran selama delapan jam sehari. Gaji pertama hanya puluhan ribu rupiah semua kusedekahkan ke mesdjid sebagai rasa syukurku, dan tak pula ada bayangan di benakku bahwa suatu hari nanti akan bergaji puluhan juta rupiah. “Kalian berempat disini hanya sementara paling lama tiga bulan bila sudah selesai masa sibuk start-up paling hanya satu orang yang dibutuhkan” Itulah kata Bapak MI salah seorang supervisor yang bertugas beliau adalah satu satunya orang Indonesia yang jadi supervisor di kilang LPG tersebut yang lainnya adalah orang asing. Saya hanya butuh satu minggu saja untuk meyakinkan bapak bapak disini bahwa saya akan terus bekerja disini pak. Delapan jam waktu kerja tidak satu menitpun saya sia siakan, mengepel lantai sampai berkilat, membuat minuman, menyediakan piring dan gelas bila tiba waktu makan, dan membersihkan toilet. Dan saya pastikan tidak ada satu titik noda pun di lantai dan di toilet, walau para operator
operator dan konsultan konsultan sibuk keluar masuk control room karena berbagai masalah operasi pabrik gas LPG yang baru mulai tersebut.

“ZK, you kerja kayak robot. Istirahatlah” , kata pak MI suatu hari. Dalam hati saya lalu berkata, “Yes ,”. Itulah yang saya inginkan, someone must recognize what I am doing . Setelah tiga bulan saya tinggal dan tiga kawan aceh saya harus keluar serperti apa yang pernah dikatakan pak MI. Menurut informasi beberapa teman, beliau kini bekerja di Lybia. Ini bukanlah hal mudah, saya bukan orang aceh dan tak pula bisa berbahasa aceh dan bersaing pula dengan orang aceh di daerah aceh untuk jenis pekerjaan yang mampu dilakukan semua orang. Strategy pertama passed. Tinggal saya sendiri janitor, jadwal kerja berubah hanya siang saja . Tidak ada lagi kerja shift malam, siang dan sore. Next, saya harus keluar dari janitor ini. Caranya hanya satu, “Tell them you can do more than janitor”, itu yang ada dalam benak saya. BANG kedua – “Komputer”. Ya, inilah kendaraan saya untuk mencapai tujuan. Tapi bagaimana caranya? Waktu kerja janitor dari jam tujuh pagi sampai jam
empat sore, istirahat jam 12 sampai jam satu siang. Setiap jam dua belas Bos besar JTJ, namanya orangAmerika, makan siang ke kamp dan baru kembali jam satu kurang 10 menit dan selalu begitu. Saya selalu masuk kekamar beliau membersihkan meja, menyapu, dsb. Di sudut ruangan beliau ada satu komputer IBM yang selalu on.

Otak saya mulai berputar inilah jalan keluar pertama yang kelihatan oleh saya. Kalau saya penakut takdir saya hanya seorang janitor. Saya harus menemukan takdir saya yang lebih baik dan ini perlu keberanian dan sedikit kenekatan dengan persiapan yang terukur. Saya kirim surat pada adik saya di Jakarta mohon dikirimi buku belajar komputer. Entah dia mengerti atau tidak, dua bulan berikutnya saya dapat kiriman 3 buku belajar komputer, Belajar bahasa Basic, Lotus 123, dan Formtool. Setelah membaca mungkin seratus kali mengulang dan melihat komputer yang terpajang di kamar sang bos. Tibalah hari nekat saya, hidup ini bukan penantian tapi sebaliknya, kamu harus mengambil setiap kesempatan yang ada. 45 menit setiap hari dengan buku disebelah kiri dan tangan bergetar mulailah menekan keyboard, Lotus 123 kelihatan dalam menu persis seperti apa yang dikatakan oleh pengarang buku yang saya baca. Formtool juga begitu. Satu minggu berjalan lancar. Now what, tak ada
artinya latihan tanpa kerja nyata. Pada saat menyapu dan membersihkan control room dimana para bapak bapak operator bertugas saya melihat sebuah kesempatan emas, ada banyak form berbentuk tabel tabel yang dibuat dengan tangan, form form itu itu diperlukan untuk mencatat setiap perubahan temperatur, pressure dan indikasi indikasi lainnya yang dimonitor dari panel panel DCS maupun diluar di area kilang LPG. Dengan mendekati beberapa operator saya mulai melakukan pendekatan dan mangatakan saya bisa buat dengan komputer itu formulir formulir dengan cepat dan rapi. Ada dua hal yang saya lakukan satu membuat form form itu dan mencantumkan nama si operator dibagian bawahnya. Dari form beralih ke grafik dengan Lotus 123, nama yang nyuruh buat selalu saya ketik disetiap lembaran ini semua saya lakukan jam 12 siang. Para operator dan leadernya mulai dekat dengan saya yang akhirnya berdampak baik saya tidak lagi pulang jam empat sore.

Bila bos besar pulang, saya masuk ke kamar beliau menyelesaikan order-order operator dan leadernya. implikasi-nya, mereka tidak merecoki saya memakai komputer Toke besar sampai larut malam. Satu lagi kebaikan mereka, memberikan tumpangan pulang jam 12 malam besama rombongan shift mereka. Rupanya Pak Mukhtar diam diam melihat sepak terjang saya. Syukur Alhamdulillah beliau juga diam tidak melapor ke kolega supervisornya yang bule semua. Sepandai-pandainya tupai melompat, suatu hari jatuh juga. Hari naas itu tiba seperti biasa begitu bos pergi makan siang saya lalu masuk mengerjakan order operator membuat grafik, rupanya hari itu bos tidak punya selera makan dia kembali lebih cepat dari biasanya. Karena pintu masuk ke ruang kerjanya di belakang saya, saya tidak tahu entah sudah berapa lama beliau berdiri dibelakang saya. Waktu saya berdiri melihat hasil printout saya terperangah dan berdiri kaku tak mampu bergerak sedikitpun jantung berdebar tak keruan,
beliau diam saja lalu mengambil topi dan keluar melihat kilang. Saya tambah bingung. Hari itu saya pulang dan bercerita sama istri saya. Habislah kita mungkin kita akan kembali ke Jakarta lagi. Kami berdua hanya terdiam sambil memandang satu sama lain. Besok paginya saya masuk kerja seperti biasa ambil sapu, nyapu, ngepel , buat minum dan semua rutin kerjaan saya lakukan. Jam 10, saya dipanggil si Bos besar. Jantung saya seakan mau copot. Inilah akhirnya perjalanan tukang sapu dalam benak saya. Tapi Tuhan berkata lain “ZK, can you make this?”, sambil menunjukan bentuk sebuah sketsa form dengan berbagai kolom dan header, itu lah kata pertama yang saya dengar seakan tidak percaya. Thanks God. 12 th kemudian beliau menggedor kamar hotel saya di Houston Texas sambil berkata ” God Damned. You made it, Man”.

Setahun kemuadian GS salah seorang supervisor bule, memberi saya komputer merek Tandy. Inilah komputer pertama saya. Tidak ada harddisk. Dengan adanya komputer dirumah percepatan kemampuan aplikasi komputer saya meningkat drastis. Setelah dua tahun jadi pesuruh dengan kemampuan aplikasi komputer yang lumayan saya dipindahkan dari Clerk ke Cluster II, dan bos saya sekarang adalah Pak MA dan Selanjutnya pak HH, Sekarang beliau beliau bertugas di Amerika, Jasa beliau pada saya juga tak terbayar dengan memberikan keleluasaan berkreasi dengan komputer. Nama saya mulai dikenal oleh para sekretaris-sekretar is jadi tempat bertanya banyak pula para supervisor dan tehnisi, bagai mana bikin ini, bagaimana bikin itu. Semakin banyak orang bertanya semakin terasah kemampuan saya. Ada yang minta tolong di buatkan, saya buat dirumah. Semuanya berdasarkan ke ihklasan. Ada yang minta tolong komputernya diperbaiki, saya tolong tanpa seperser duit pun. Ada yang minta
tolong ditemani ke Medan untuk beli komputer komisi yang diberikan toko komputer dimedan tidak saya ambil malah saya suruh mengurangi harga kumputer tsb, saya bantu dengan senang hati. Kawan kawan pada menertawai saya dikasi duit kok tidak mau, hidup sendiri saja susah. Mereka barangkali tidak atau belum tahu bahwa saya tidak suka istilah sampingan saya punya rencana besar.

Tahun 1992 aku diberi sepeda bekas anak bule. Anak laki lakiku sudah berumur 3 tahun dan yang sulung sudah kelas dua SD. Mereka berdua setiap aku pualng kerja selalu kebawa jalan jalan naik sepeda berkeliling kota lhokseumawe, kadang kubawa mereka lapangan sepak bola di komplex PTA. Disini kami bertiga berlarian dilapangan sepak bola yang sepi itu. Bagiku melihat anak anak berlari kian kemari dan aku ikut pula bermain bersama mereka hilang sudah rasa lelah seharian. Anak anak inilah yang menjadi driver utamaku agar terus berlari dilapangan kehidupan yang semakin hari semakin tajam kerikilnya. Dengan bermain main dengan komputer banyak pula para expatriate yang memberiku komputer mereka dengan cuma cuma pada saat mereka pulang kenegerinya. Dan semua pemberian mereka kujual satu persatu untuk membayar kontrakan rumah. Suatu hari tiba surat dari kampung menyatakan ibu ku sakit di Kampung. Aku tidak berani pulang ke kampungku maninjau, aku belum jadi apa apa
rasa malu sebagai perantau gagal selalu menghantuiku aku tak mampu menemui orang yang kukenal dalam keaadan belum jelas ini, barangkali ini juga yang menjadikan aku berjuang habis habisan. Kuminta istriku untuk pulang dan membawa Ibu ke Lhokseumawe. Istriku belum pernah mengenal maninjau. Dengan menunjukan peta dimana rumah kami di maninjau dan how to get there nya. Beranglkatlah istriku bersama dua anak ku ke Maninjau menjemput Ibu. Setelah beberapa bulan di Lhokseumawe dirumah kontrakan sempit ibu tidak betah dan beliau dijemput adiku ke Jakarta. Adiku sudah mapan dan tidak lagi bertarung di medan yang tak berujung seperti diriku. Baru pada tahun 2005, sehari sebelum keberangkatan ku yang kedua ke Angola aku dapat telpon seorang teman di SMA Maninjau yang kebetulan sedang barada di jakarta dia mengatakan menungguku di suatu tempat di Lenteng Agung disana sedang berkumpul teman teman SMA Maninjau yang akan mangadakan reuni.

Besoknya pesawatku berangkat jam 7 sore, Sekitar jam dua siang aku berangkat menuju Lenteng Agung. Beberapa teman sesama SMA dulu hadir dihadapanku dan banyak pula yang tidak kukenal karena ada generasi beberapa tahun dibawahku. Dengan sedikit senyum aku berkata pada diriku sendiri bahwa geng saya tak jauh bedalah dengan anda. Kusumbangkan USD ku buat acara reunian tersebut. Sebelum aku pamit berangkat ke Airport balik ke pos ku di Angola.

Kalau gaji saya sepuluh ribu, saya harus hidup dengan sepuluh ribu. Di tempat kontrakan saya, di Cunda Lhokseumawe yang kebetulan dekat pasar yang banyak anak anak muda yang mulai tertarik bongkar pasang komputer. Mulailah saya mengajari mereka dengan persahabatan, mulai instalasi, utak atik hardware, video editing dengan software yang kemudian berbuah baik. Tidak saja mereka mampu berdiri sendiri tapi berdampak baik bagi saya dan keluarga apalagi pada saat aceh ribut ribut dengan Gam. Hampir semua orang yang akan pindah dari aceh th 1999 didatangin oleh preman preman minta uang yang berlebihan pada saat menaikan barang ke atas truk. Giliran saya memberi uang, malah mereka menolak, bahkan beberapa yang tak pernah kelihatan tersenyum mengeluarkan air mata. Sampai hari ini persaudaraan dengan kawan kawan masih terjalin baik kalau mereka ke Jakarta selalu mengabari saya. Sepanjang hidup saya disini pula saya pertama kali menerima parcel lebaran dari Toko
accesories mobil KK. Awalnya sang pemilik bengkel membawa komputernya yang bermasalah ke Reparasi Electronic AY asal Sigli yang pas didepan rumah saya. Entah kenapa AY minta tolong agar saya melihat apa yang salah. Saya datang dan setelah otak atik tak ada yang salah. Apa yang dilakukannya sudah benar. ED, orang cina dan sang pemilik bercerita , dia pingin buat program database untuk tokonya yang baru akan dibuka di Pekan Baru tapi dia tak tahu mau mulai dari mana. Saya anjurkan pakai clipper saja, tapi kamu yang ngerjain, saya akan bantu anda. Tiga bulan kemudian program pun jalan. Mungkin karena sudah disarankan oleh Si ayub bahwa saya tidak mau kalau dikasih uang, seminggu sebelum lebaran seseorang mengatar parcel kerumah. WOW! Keranjangnya besar sekali dengan kartu bertuliskan `Terima Kasih’ dan sebuah kipas angin yang bisa digantung di ceiling rumah.Kipas angin itu sampai sekarang masih tergantung di ruang keluarga rumah saya dan masih aktif.
Apakah ini harga untuk sebuah program inventory database clipper saya? Mudah-mudahan tidak, karena saya selalu menganggap persaudaraan jauh lebih bernilai dari uang.

Berganti-ganti nama PT setiap tahun yang mengurusi para karyawan kontrak ditempatku bekerja. Masalah keterlambatan pembayaran gaji sudah jadi hal biasa. Setiap ganti PT selalu saja ada masalah baru. Bosku pun berganti semua, mereka orang orang pintar lulusan luar negeri. Aku terus belajar, kini arahnya berbeda. Semua orang mulai dari labour, operator, supervisor kutemani dengan baik dan belajar dari mereka tentang operasional. Kalau dulu jam makan siang aku belajar komputer sekarang setiap jam makan siang aku keluar bergabung dengan para labor-labor di lapangan. Bertanya ini apa, itu apa, kalau ada kesempatan ikut pula bertanya dengan kawan yang operator di lapangan, memahami prosess kerja setiap alat. Buku buku panduan mulai kubuka-buka, bila ada yang tidak tahu aku bertanya. Cita-citaku kini mau jadi operator. Kembali ada rencana Tuhan yang aku tidak tahu. 1995, ada pegurangan pegawai besar besaran di tempatku bekerja. Para engineer dan ahli ahli
banyak yang keluar karena dapat uang tolak yang cukup besar. Reorganisasi ini menciptakan departement baru, Asset Optimization namanya. Suatu sore aku ditelpon GF, ” Zk, do you want to join my team?” katanya. Dia ditunjuk sebagai Asset Optimization Manager, saya kenal beliau ketika dia datang untuk project start-up. Dan dia sering datang ketempat saya minta tolong dibuatkan flow diagram dan berbagai jenis production chart untuk presentasinya. Bos ku pada waktu itu Pak HH berkata, “go zk”, kalau beliau menahanku tulisan ini tidak pernah ada. Terima kasih Pak.

BANG ketiga, Juni 1995. ZK jadi Computer Operator, itu yang tertulis dalam selip gaji yang kuterima dari PT Kesayangan. Selamat tinggal “Clerk typist”. Cita cita jadi operator gagal total, juga tak ada dalam bayanganku bahwa lima tahun kemudian, th 2000 aku kembali Lapangan Gas ini melakukan Test beberapa sumur produksi dari Control room. Mengarahkan bapak operator yang dulu kulayani dengan membuatkan kopi mereka dan memcuci piring bekas makan mereka. Mereka dengan segala senang hati membantuku agar proses testing berjalan dengan sempurna. Setahun jadi Computer Operator yang jauh bertentangan dengan apa yang sebenarnya kulakukan, berkutat dengan data produksi, data sumur sumur produksi hasil analisa Lab, dll. Akhirnya th 1996, Bos merubah title Jadi Reservoir Tech., masih sebagai kuli kontrak yang bergaji kecil. Kebiasaan menolong orang yang bermasalah dengan komputer membuahkan hasil. Aku bersama Pak AA, salah seorang supervisor Wellhead berangkat ke
rumah Pak KN? Komputernya bermasalah. Dia udah minta tolong orang IT, tapi belum juga bisa. Selesai mengutak atik dan sukses, Pak KN memberi uang yang dilipatnya kecil-kecil, langsung saya tolak. “Pak, saya datang kemari untuk menolong, bukan cari uang tambahan. Kalau bapak mau membantu, reviewlah kembali gaji kami, para buruh kontrak ini”. Pak AA langsung memelototi saya. Kami langsung pulang. Implikasi dari insiden tersebut rupanya berdampak baik.

Beberapa bulan kemudian seluruh kontraktor mendapat perubahan gaji dan rasionalisasi jenis pekerjaan, dengan upah yang signifikan. Seluruh kawan-kawan bergembira tapi mereka tidak tahu apa yang ada dibalik semua itu. Hanya selang lima bulan kemudian, beliau meniggal karena kecelakaan pesawat dalam penerbangan Jakarta-Medan. Terima kasih Pak, dan selamat jalan. Now what apakah sampai disini. Banyak orang tidak mau menginjak pedal gas nasibnya sampai kandas menembus batas tolerance kemampuannya, ada yang takut, ada pula yang dengan senang hati menerima saja apa adanya sambil berkata “Garis tangan ku sudah seperti ini”. Padahal Tuhan memberikan pilihan yang tak terbatas dan waktu yang cukup, tempat dimana fenomena sebab akibat terjadi. Bahkan di salah satu ceramahnya Qurais Sihab mengatakan manusia diberi kemampuan oleh Allah untuk memilih takdirnya sendiri dalam ruang lingkup yang ditetapkan oleh Tuhan. Inilah sepatuku tepatku berpijak dalam mengarungi
lautan kehidupan ini. Rasionalisasi karyawan kontrak menuai pro dan kontra para karyawan kontrak yang mempunyai skill khusus seperti mechanic, welder, dll terdongkrak gradenya dan naiklah gajinya dan sebaliknya karyawan yang dibesar besarkan gradenya karena koneksi dan sebagainya terjungkal dengan bayaran rendah.

Aku sendiri merasa mendapat durian runtuh karena aku adalah karyawan lokal pertama yang masuk kategory staff dan sebuah fasilitas yang tak pernah diberikan pada karyawan kontrak manapun seperti entitle pula mengunakan facsilitas pesawat perusahaan dari Lhokseumawe ke Medan termasuk juga keluargaku dengan priority empat. Bahkan mengalahkan Karyawan Tetap yang bersatus nonstaff hanya priority lima kalau saya ingin terbang sang karyawan nonstaff harus mndur. Tentu saja tidak pernah kulakukan membuat karyawan tetap tak bisa terbang. Sampai detik ini tak ada yang menanyakan ijazahku.

Hari hariku kujalani dengan berbagai cara dan strategy untuk mengisi otakku yang bodoh ini. Aku mulai hariku selalu dengan “there must be a way to improve this job”. Tersebutlah beberapa nama tempat ku belajar sambil bekerja. AHI anak muda briliant jebolan ITB, YF juga anak ITB dengan Master di NewMexico, AM dan MD jebolan Texas University dan lain lain termasuk beberapa Expatriate. Apa ini apa itu bagaimana caranya
# Anonymous
August 10th, 2009 at 10:35 pm

mengisi hari hariku. Dengan kemampuan Visual Basic dan Excel ku yang diatas rata dan pemahaman tentang mesin Unix yang lumayan terjadilah semacam bargaining tidak nyata. Aku mampu mensiplify tugas mereka dengan hitungan menit bahkan second sementara mereka melakukan dalam hitungan jam. Kegembiraan bapak bapak itu membuat aku semakin sibuk mengerjakan pekerjaan mereka.

Prinsipku berubah lagi ” Dimana lagi aku dapat di dunia ini bisa belajar dan dibayar pula”. dari berbagai jenis data manipulasi, plotting, transfer dan conversi. Aku mulai tertarik dengan pekerjaan Economic Evaluasi. MD beliau kini bekerja di Chevron G&G Jakarta adalah orang pertama yang mengenalkan ku pada teknik eveluasi ekonomi di dalam Production Sharing Contract yang sedang ramai dibicarakan oleh media kini. Pekerjaan ini menyita waktu yang tidak sedikit. Pernah aku harus pulang jam empat pagi dan kembali lagi kekantor jam enam pagi, karena terlalu banyak sensitivity yang harus dilakukan untuk Project Lepas Pantai kala itu. Para toke-toke besar keesokan harinya ingin melihat berbagai scenario dan implikasinya sebelum dimajukan ke Pusat untuk persetujuan go or no go project tersebut. Suatu kredit tersendiri juga bagi ku bahwa Project tersebut disetujui dan masih beroperasi sampai hari ini dan menyumbang devisa untuk Negeri ini. Dengan kesibukanku aku
sempat ditanyai istriku”udah gajian belum”?. Holy woly sudah tanggal sepuluh rupanya aku belum mengambil gaji dari PT tempat ku bekerja. Aneh ada orang lupa gajian kata istriku. Kawan kawan sesama kontraktor selalu bertanya kenapa tidak minta jadi pegawai zk?, Emangnya ini perusahaan bapakku. I just do my best, keep learning dan tidak lupa berdoa agar diberikan rezeki yang halal supaya anak anak ku bisa sekolah tinggi and the rest is belong to God.

Kembali pada waktu. Secara definisi, waktu adalah dimensi di mana fenomena sebab dan akibat terjadi. Tidak ada waktu, tidak ada sebab dan akibat.. dan aku diberi waktu kenapa tidak aku maksimalkan. Sebab aku menerima segala bentuk pekerjaan tanpa pamrih akibatnya bos merasa harus melatihku dengan berbagai pemahaman dan merasa aku harus ikut pelatihan tentang Basic Pertoleleum Enginnering yang di adakan di Bandung 1997, Economic Risk analisis di Medan dan menyusul kemudian dengan Project Economic Evaluation June 1998 di Jakarta. Indonesia yang baru saja melakukan reformasi politik dan ekonomi secara bersamaan yang membuat kota jakarta rawan demo, Uni Sovyet hancur karena Glassnot dan Perestoika, Yugoslavia menyusul kemudian. RRT belajar dari kesalahan orang lain dan hanya melakukan reformasi ekonomi. Dan kini sovyet mulai menahan laju reformasi politiknya walau tetap membiarkan reformasi ekonomi berjalan. Pada saat mengikuti kursus Project Economic
Evaluation di Jakarta saya ditelpon dan disuruh pulang dengan menumpang pesawat perusahaan dari Halim langsung ke Lhoksukon. Sesampai di Halim ternyata penumpang pesawat hanya berdua saja, saya dan orang nomor satu di Ladang Gas tsb. Hampir empat jam terbang dengan pesawat kecil tersebut sepanjang perjalanan saya optimalkan komunikasi dengan sang penguasa tersebut. Pembicaraan hanya seputar pekerjaan saya tentang manfaat kursus yang baru saja saya ikuti. Saya selalu mengarahkan pembicaraan seputar pekerjaan sampai pesawat landing di Lhoksukon. Keesokan harinya saya ambil cuti selama dua minggu. Hari pertama kembali dari cuti saya ditelpon ole Pak HP orang HRD, ada apa gerangan kembali jantung saya berdebar keras apa lagi ini, apa saya salah ngomong pula dengan toke besar itu dipesawat maklumlah bahasa inggris saya hancur. Ternyata pak hendrik menyodorkan formulir yang harus diisi oleh seorang calon pegawai regular. Saya berdiri seperti patung tangan
seakan kaku tak mampu digerakan jangankan untuk mengisi furmulir mengangkat tangan saja tidak mampu. Formulir di-isi, disitu tercamtum efective tanggal 1 july 1998 saya resmi sebagai karyawan kontrak langsung atau first party kontrak, gaji saya dibayar oleh Perusahaan tidaklagi oleh PT PT lokal. Salah satu keanehan isi kontrak itu adalah saya beserta seluruh keluarga saya berada dalam tanggungan Perusahaan semua fasilitas kesehatan dan benefid lainnya saya tidak berbeda dengan pegawai tetap. Aku mulai menyenangi pekerjaan project evaluasi economic ini. Kuliah lagi, itulah yang ada dalam kepalaku. Fakultas Ekonomi Universitas Malikusaleh Lhokseumawe kududuki sarjana ekonomi harus ditangan. Hanya sampai semester IV aku dipindah kan ke Jakarta.

Lhokseumawe, akhir 1999. Suasana semakin panas gejolak Aceh merdeka sudah menggoyang semua sendi sendi kehidupan masyarakat. Bahkan anak laki lakiku yang baru duduk di SD kelas lima. Sudah menggambar bendera GAM di kamarnya. Orang orang mulai meninggalkan Lhokseumawe. Saat itu hari Sabtu jam 3 sore, aku sedang membersihkan rumah. Telepon berdering setalah kuangkat. Terdengar suara pak HH ” zk you move to Jakarta”. Bergetar seluruh badanku, setelah tertahan aku hanya mampu menjawab “Terima kasih Pak”. Aku masih karyawan kontrak belum full employee. There is no way to move to Jakarta kalau difikir dengan akal sehat. Tapi ada tangan Tuhan yang bekerja yang jauh diluar nalarku. Jakarta, December 2000, Perusahaan tempat saya bekerja baru saja menyelesaikan process merger dan menjadi perusahaan minyak terbesar dimuka bumi ini. Hari itu pula saya direkrut jadi karyawan penuh. Beberapa teman secara bercanda berkata hansip langsung jadi kapten. Sejak tahun 1991
tidak pernah ada rekrutment pegawai non Engineer boleh dibilang saya adalah ice breaker pada waktu itu. Sejak saat itu berkali kali saya dapat pelatihan pelatihan keluar negeri. Dalam mengikuti pelatihan pelatihan ini aku merasa diriku sangat kecil sekali, karena para peserta pelatihan semuanya insinyur. Rasa malu rendah diri mulai menghajarku. Kucoba mengurus surat pindah dari Universitas di Lhokseumawe itu dengan minta pertolongan seorang sahabat di Aceh, karena aku sudah di Jakarta. TS, sahabatku itu yang sama sama kuliah dengan ku itu berhasil membantuku mengurus surat pindah dan semua transkrip nilai dari Unima. Sahabat ku TS kini telah tiada. Beliau termasuk satu dari ratusan ribu korban Tsunami th 2004. Selamat jalan Sahabat. Dengan berbekal nilai konversi dari Unima, aku lanjut kuliah di salah satu Universitas Jakarta tahun 2003, Bsc, Economic masuk kedalam resume ku. Pada saat wisuda di Gedung Sudirman dikawasan kuningan Ibuku berdiri disebalah
kanan dan istriku berdiri disebelah kiri. Foto itu sampai kini terpampamg dirumahku. Kalau dulu kami berdua anaknya bersyukur habis habisan dengan menyelesaikan SMA saja. Sekarang kedua putranya sudah Sarjana. Usiaku kala itu sudah menginjak 45 tahun.

Setelah mengantongi S1 yang kejar kejaran anatara kerja dan kuliah disore hari, aku mulai bermimpi untuk lanjut mengejar S2 kalau perlu tiga sekalian why not, kali ini tak kesampaian sebuah jalan baru terbuka aku dapat tawaran oversea assignment ke luar negeri. Bangga juga rasanya saat dapat memenuhi persyaratan “Please attached your Academic Certificate? “. Akhirnya tukang sapu bertransformasi menjadi expatriate keliling dunia. Benar kata orang saat kita mencari kesempurnaan, yang kita dapat kekecewaan. Tetapi kala kita siap dengan kekurangan, maka segala sesuatunya akan terasa istimewa.

Hari pertama menginjakan kaki di benua Afrika setelah terbang 13 jam dari Singapura – Paris dan sambung lagi delapan jam ke Luanda. Aku disambut dengan hujan deras, kota luanda dilanda banjir. Negeri yang berbahasa portugis ini adalah tempat bekerjaku yang baru. Pengalamanku tentang Minyak Nol Besar, di Indonesia kami produksi Gas, itulah yang kupelajari. Bahasa Inggrisku tidak pula baik, asal orang mengerti saja itupun tak jarang orang salah pngertian. Seminggu pertama aku susah tidur karena fikiranku kacau mencari cara effektive bagaimana bisa belajar cepat agar tidak terlalu lama kelihatan bego. Alhamdulillah aku mulai pelan pelan memahami konsepnya memasuki putaran kedua saya sudah menjadi pengajar yang baik.

Puasa hari ke dua puluh tahun 2006 aku pulang kampung. Anak anak, istriku dan Ibu , kami berenam mudik. Bagiku ini adalah yang pertama kali pulang sejak menjemput Almarhum nenekku yang sakit di tahun 1986. Dengan Innova yang baru kubeli dengan keringat sendiri kami pulang full team. Maninjau here we come, Pertama sepanjang hidupku aku mengemudi menuruni kelok kelok empat puluh empat itu. Rupanya tak serumit seperti cerita cerita orang saat aku kecil dulu, bagiku sama saja dengan menuruni parkiran di gedung gedung bertingkat yang ada di jakarta. Ada detakan keras dijantungku, mataku basah saat kupandangi danau indah biru dibawah sana. “Man..,Where have you been in the last twenty years”, Dengan gigi dua aku meluncur lepas dari kelok satu langsung belok kiri. Kulihat rumah tempat aku lahir, ada yang menempati rupanya dikontrakkan pada orang lain. Sebenarnya hati kecilku menangis karena kami harus mencari hotel. Bagiku rumah seburuk apapun itu adalah
rumahku. Dalam adat minangkabau yang menganut garis matrilinial itu bukanlah rumahku. Walau ada sebuah cerita disana memori masa kecilku. Aku pulang untuk menghormatku almarhumah Neneku yang tidak pernah lagi pulang. Danau Indah kini sudah berkerambah air jernih sudah berubah kotor, permukaan danaupun sudah turun beberapa meter implikasi dari dibangunnya PLTA, hanya tiga hari aku di Maninjau. Hari kedua aku bawa keluargaku berkeliling danau dan terus ke Lubuk Basung seolah napak tilas mennyelusuri jalur lamaku. Sekeliling danau bertebaran kerambah kerambah ikan sampai ke Lubuk basung sepertinya bila ada air mengalir disitu ada budi daya ikan. Masyarakat Maninjau dan sekitarnya sudah jadi ahli perikanan semua. Dimana mana tak ada cerita lain selain ikan dan pakan ikan. Ikan dan pakan ikan adalah dua kata yang paling populer di maninjau.

Semoga ikan ikan itu akan berakhir sama seperti berkahirnya kopi, pala dan cengkeh. Adios Maninjau remember me..sambil mengganti ke gigi satu ditikungan terakhir kelok empat puluh empat. Dan kamipun meluncur ke Payakumbuh, kekampung ayahku dan ini adalah kunjungan ku pertama sejak ayah meninggal di tahun 1976. Bila maninjau berubah payakumbuh juga tak jauh beda. Disinipun kami menginap di hotel. Setelah ziarah kemakam ayahku sorenya kami lanjut ke Bagan Siapi api dan akhirnya kembali ke Jakarta.

Tak selamanya susah itu susah dan senang itu senang, Penyakit psoriasis yang menyerangku sejak tahun 2000, mulai meraja lela. Kuku dan telapak tangan hancur rupanya kelelahan terbang yang hampir dua hari dua malam setiap bulan berangkat ke tempat kerja di afrika dan keharusan menelan pil anti malaria setiap hari memperparah penyakitku. Saat duduk dipesawat dan bersalaman dengan orang awalnya membuatku merasa down. Selesai bersalaman rata rata orang menggosokan tangannya sperti bersalaman dengan orang yang tangannya kotor. Rupanya segala penderitaan panjang yang kualami belum mampu mengangkat kepalaku. Semakin tinggi tingkat stress semakin parah pula psoriasis ini menyerangku. Obat yang kukonsumsi sudah tidak berpengaruh lagi. Aku tak mau orang salah sangka dengan penyakit yang kuderita. Hasil browsing dari internet ketemukan penjelasan seorang dokter ahli tentang penyakit ini langsung ku cetak banyak banyak. Setiap bertemu orang yang baru kukenal
keberikan padanya copy info tentang penyakit tersebut. Satu persatu teman dan sahabat mulai menyadari this is not a decease, ini adalah penyakit genetic skin disorder. Semakin banyak orang memahaminya terasa pula perubahan dalam diriku. Rasa percaya diriku kembali tumbuh lagi tanpa kusadari penyakit ku mulai pula mengalami remisi demi remisi, sekarang tidaklah separah dulu lagi walau aku tahu penyakit ini tidak pernah akan hilang begitu saja. Tapi bila hati senang, stress level rendah sang penyakitpun mulai sirna. Aku mulai menemukan obat baru yang paling effective bagi diriku, Berbuat kebaikan, seperti kata orang bijak “Sesungguhnya jika kita berbuat kebaikan, Kita BUKAN hanya sedang membantu orang atau mahkluk lain, Namun sesungguhnya kita sedang membantu diri kita sendiri agar menjadi lebih bahagia. Temukan kebahagiaan dengan memberi “, bila hati gembira segala penyakit akan berdiri jauh dari kita.

“Aku mengagumi seorang mukmin karena selalu ada kebaikan dalam setiap urusannya. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur (kepada Allah) sehingga di dalamnya ada kebaikan. Jika ditimpa musibah, ia berserah diri (dan menjalankannya dengan sabar) bahwa di dalamnya ada kebaikan pula.” (HR Muslim).

Perangku terus berlanjut, satu persatu kota didunia kejelajahi tentu tidak sama dengan TNI menghancukan PRRI di tahun 1958 silam dengan menduduki kota Padang sampai ke palembayan dan terus turun Maninjau.

28 july 2008 jam lima sore saya dipanggil mengehadap bos. “You are transfer to Head Quarter as a Global Company Resourse”. Report to CV. You will be made a lot of travel around the world zk. dst dst… Another “BANG”. Tuhan telah menciptakan semuanya. Sepanjang Tuhan masih memberikanku waktu, I will do my best….for my self and for the others.

Karir International ku berawal dari jam sepuluh pagi pada saat terjadinya gempa bumi tanggal 26 Desember 2004 di Asia Tenggara, gempa terbesar dalam kurun waktu 40 tahun terakhir dan terbesar kelima sejak tahun 1900, Aku masih termenung menunggu passportku yang dikirim dari US dengan visa Angola yang dikeluarkan oleh kedutaan angola di Washington DC di kantor Fedex bandara Sukarno Hatta.

Tiket untuk terbang ke Angola dengan route Singapore – Paris – Luanda sudah ditangan dan jam 7 malam adalah hari keberangkatan ku ketempat dimana aku akan bertugas dengan jadwal kerja empat minggu on dan emapat minggu off. Situasinya sangat kritikal karena kalau passportku tidak kuterima hari ini yang bertepatan dengan hari libur semua bisa berantakan. Penerbangan dari Paris ke Angola hanya sekali seminggu. Energi yang ditimbulkan oleh bongkahan tanah raksasa yang berpindah tempat, berpadu dengan energi yang terjadi di samudra yang membentuk gelombang tsunami seolah dikalahkan oleh kegalauan yang berkecamuk di dikepalaku. Akhir nya setelah menanti sekitar dua jam aku menerima passportku yang sudah terbang sendiri bolak balik ke negeri paman sam. Berakhir pulalah bolak balik log in ke internet untuk tracking sudah sampai dimana dokument ku.

Berita TV yang kutonton waktu transit di Singapura jam delapan malam berkisar tentang Gelombang tsunami itu menghantam negara-negara Asia Tenggara seperti Indonesia, Sri Lanka, India, Malaysia, Thailand, Bangladesh, Myanmar, Maladewa dan Seychelles, dan bahkan pesisir pantai Afrika seperti Somalia. Berita ini seolah mengatarkan ku sampai aku mendarat di Luanda Angola. Sebulan penuh di angola setiap hari berita dunia bercerita tentang tsunami semua orang ingin tahu apa itu tsunami. Dari bebegai media aku pun mencoba mencari tahu apa itu tsunami disela sela waktu kesendirianku yang jauh dari keluarga di Angola.

“tsunami,” yang dalam bahasa Jepang berarti gelombang pelabuhan, menjadi bagian dari bahasa dunia pasca tsunami raksasa Meiji pada tanggal 15 Juni 1896 yang melanda Jepang. Bencana besar ini mengiringiku ketempat tugas baru, aku lahir kedunia ini juga diiringi senandung pergolakan PRRI dan siraman mitraliur. Kalau di ingat lagi ketika aku diangkat jadi karyawan pada perusahaan minyak raksasa ini di tahun 1998 juga dibawah dendang krisis ekonomi dahsat yang melanda Asia rupiah anjlok sampai 15 000 perdolar dan Suhartopun terjungkal.

Kini menjelang akhir tahun 2008 disaat saat keberangkantanku ke Amerika kembali dunia diguncang Tsusnami ekomoni yang menerjang lembaga lembaga keuangan Dunia. Sama seperti dulu kini semua pemberitaan dunia dari detik perdetik adalah pasar bursa dan hancurnya lembaga keuangan secara besar besaran. Seluruh negara negara didunia ini berpacu dengan waktu untuk meyelamatkan perekonomian mereka. Biliun dolar mengucur membantu mengobati penyakit akut lembaga keuangan tersebut. Aku tersenyum memandangi US Visa type L1 pun yang tertempel di passport kebanggaan ku, Istri dan anak diberikan L2, Barang barang2 telah masuk kotak “we are ready to go”. Ketempat baru, rumah baru di Houston Texas, suasana baru dan kerja baru.

Kulihat lagi diriku dicermin pagi ini kupatut patut sambil melihat selembar kertas bayaran baruku. Entah kapan aku bermimpi akan mendapat bayaran sebanyak itu apasih sekolahku Insinyur bukan, ahli tidak manager jauh panggang dari api. AKU Anak SD Tjahaya, SD III Kijang dan alumni SMP Kijang dan dropout SMA Tg Pinang dan lulusan SMA Negeri Bagan Siapi Api jurusan IPS.

Kalau waktu di sekolah dasar aku ditertawakan kawan kawan dengan sebutan Katak, karena jalanku tak lurus. Aku selalu pulang dengan babak belur dikeroyok karena aku tidak terima dengan ejekan tersebut. Akhirnya nenekku selalu menghibur, ” katak adalah ciptaan Tuhan yang paling jago melompat dan buatlah lompatan lompatan indah dalam hidupmu kelak”

Satu November 2008 aku bersama keluarga terbang dengan route Jakarta –Moscow–Houston.

Selamat tinggal Indonesia negeri indah dan penuh orang pintar.

Semua yang saya alami adalah buah dari usaha untuk menjadi yang terbaik dan dalam setiap langkah saya adalah usaha kearah itu akhirnya sebuah proces panjang saya lalui untuk mencari takdir saya.

Semoga bermanfaat
Zul
Houston TX

September 25, 2009 Posted by | Life Story | Leave a comment

Nasionalisme

National-Flags-Internation-Country-Flags-NF07506-
suatu kata yang sudah tidak asing lagi di telinga kita, yaitu Nasionalisme..banyak orang rela mati demi nasionalisme, sebenernya apa sih nasionalisme ini???

Nasionalisme adalah satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (dalam bahasa Inggris “nation”) dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia.

Para nasionalis menganggap negara adalah berdasarkan beberapa “kebenaran politik” (political legitimacy). Bersumber dari teori romantisme yaitu “identitas budaya”, debat liberalisme yang menganggap kebenaran politik adalah bersumber dari kehendak rakyat, atau gabungan kedua teori itu.

Ikatan nasionalisme tumbuh di tengah masyarakat saat pola pikirnya mulai merosot. Ikatan ini terjadi saat manusia mulai hidup bersama dalam suatu wilayah tertentu dan tak beranjak dari situ. Saat itu, naluri mempertahankan diri sangat berperan dan mendorong mereka untuk mempertahankan negerinya, tempatnya hidup dan menggantungkan diri. Dari sinilah cikal bakal tubuhnya ikatan ini, yang notabene lemah dan bermutu rendah. Ikatan inipun tampak pula dalam dunia hewan saat ada ancaman pihak asing yang hendak menyerang atau menaklukkan suatu negeri. Namun, bila suasanya aman dari serangan musuh dan musuh itu terusir dari negeri itu, sirnalah kekuatan ini.
sumber diatas saya dapat dari Wikipedia..(http://id.wikipedia.org/wiki/Nasionalisme)

dia bilang Nasionalisme bermutu rendah..benarkah itu?? padahal bukankah dari kita sd kita diajarkan untuk menjadi seorang yang nasionalis?

saya jadi ingat dahulu waktu harga bbm naik rakyat berbondong2 berdemo meminta turunnya harga bbm, namun seiring kejadian tersebut Malaysia berbuat ulah seakan-akan martabat bangsa Indonesia ini dilecehkan. emudian secara spontan rakyat marah terhadap kelakuan malaysia tersebut.
loh?? maksudnya???
maksudnya mereka kemudian lupa kalau bbm lagi naek, yang ada juga rasa benci terhadap malaysia. Pemerintah biasanya memanfaatkan jiwa nasionalis rakyat bila terjadi konflik dalam negeri.

nah, sekarang banyak juga orang yang rela mati demi nasionalisme!
masalahnya kita tidak bisa memilih untuk dilahirkan di negara mana… betul tak?
misal bila kita berkewarganegaraan AMERIKA, haruskah kita NASIONALIS? haruskah kita rela mati demi AMERIKA? padahal kita sudah jelas-jelas tahu kalau AMERIKA itu salah?
berkat nasionalisme pula banyak orang yang marah besar terhadap Malaysia, bahkan mereka tidak segan segan untuk PERANG!
wah wah…beneran mati nih..
saya sebagai umat muslim menghargai kemarahan mereka, cuma apa perlu kita membunuh tentara Malaysia yang notabene masih saudara kita juga sesama muslim? kalau begini apa bedanya dengan pertumpahan darah suku suku primitif yang berperang padahal mereka satu Indonesia?

terlepas dari hitam dan putih beginilah nasionalisme, segala sesuatunya balik lagi ke sifat alamiah manusia itu sendiri.

September 22, 2009 Posted by | abu abu | Leave a comment

   

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.